Jika Kamu Sayang Kami Maka Hentikan Lingkaran Kebencian Ini!

Pagi itu, Jumat (15 Maret 2019), saya sudah berdandan rapi untuk pergi Jumatan meskipun di hari itu sesungguhnya saya sedang berhalangan untuk shalat. Kepada suami saya, Pak Jay, saya bilang bahwa saya ingin mendengarkan khutbah saja karena memang kadang juga ada mbak-mbak yang datang ke acara shalat Jumat hanya untuk duduk di belakang, di tangga dekat pintu keluar, untuk mendengarkan khutbah.

Tapi sesungguhnya alasan utama saya adalah saya tidak ingin membiarkan suami saya pergi ke Jumatan sendirian. Saya takut kejadian di Selandia Baru terjadi di sini dan saya tidak bisa bertemu suami saya lagi. Sebuah bayangan yang sangat mengerikan dan sebuah trauma mencekam bagi siapapun yang tinggal sebagai minoritas di negara yang juga memiliki masalah terkait ujaran kebencian, termasuk di Amerika. Apapun bisa terjadi. Apalagi di tahun 2017 lalu ada masjid di area Minnesota yang dilempari bom. Sekali lagi, apapun bisa terjadi.

Sampai di tempat Jumatan, kami disambut oleh beberapa orang yang sudah menunggu di pintu masuk. Mereka adalah jamaah gereja Lutheran, yang di kompleks area gereja mereka itulah para mahasiswa dan keluarga mahasiswa Muslim University of Minnesota menunaikan ibadah shalat Jumat setiap pekan. Kami nebeng Jumatan di ruang serba guna di lantai bawah (basement) dalam kompleks tersebut.

Tidak seperti biasanya yang hanya ada satu atau dua orang saja di depan pintu, hari itu ada lebih dari lima orang menyambut kami dengan salam dan senyum yang lebar. Saya membalas dengan senyum tapi dengan sedikit buru-baru masuk ke ruangan karena jujur saja saya masih diliputi ketakutan yang nyata sehingga apa-apa yang ada di sekeliling saya rasanya menakutkan semuanya.

Ketika adzan dikumandangkan dan khutbah dibacakan, biasanya saya akan terlarut dalam khutbah yang disampaikan karena hampir selalu materi khutbahnya sangat dekat dengan kehidupan kami sebagai keluarga mahasiswa perantau. Tapi hari itu, saya sama sekali tidak mampu berkonsentrasi mendengarkan khutbahnya. Mata saya selalu tertuju pada pintu masuk yang ada di antara shaf laki-laki dan perempuan.

Saya membayangkan jika, amit-amit, kejadian di Selandia Baru terjadi di tempat itu, setidaknya saya waspada. Ketika khutbah selesai dan shalat dimulai pun mata saya tetap waspada memandangi pintu masuk sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Saya pun bertanya-tanya, apakah ketakutan ini harus selalu menghantui saya setiap hari Jumat tiba?

Di waktu yang sama, rasa sedih, rasa jengkel, dan rasa marah juga dirasakan oleh orang di seluruh dunia. Bukan cuma oleh Muslim saja, tapi juga orang-orang lain yang merasa bahwa tidak semestinya nyawa manusia dihilangkan begitu saja.

Namun di sisi lain, di sebuah negara tempat saya dilahirkan, ada saja orang-orang yang menggunakan kejadian ini sebagai bahan bakar ujaran kebencian mereka kepada orang lain yang berbeda. Tanpa mereka sadari bahwa lingkaran kebencian yang mereka jaga baranya ini sama saja dengan pisau yang mereka letakkan di leher kami di sini, saudara seimannya sendiri.

Bisa saja mereka merasa aman dengan ujaran kebencian yang mereka gelorakan itu, tapi ujaran kebencian itu bisa menimbulkan balasan kebencian yang membahayakan saudaranya di tempat lain.

Sudah siapkah mereka menerima kenyataan bahwa tumpahnya darah saudaranya adalah dari ujaran kebencian mereka yang juga dibalas dengan kebencian juga? Bisa kah mereka mengelak di hadapan Gusti Allah dan mengatakan bahwa mereka tidak ikut ambil bagian dalam lingkaran kebencian ini?

Balas-membalas kebencian dengan kebencian ini hanya akan membuat kita semua merasa resah dan tidak aman setiap saat. Ini kah yang kita inginkan? Tentu saja tidak!

Mari jujur saja kita akui bahwa di dalam kelompok penganut agama apapun, ada saja orang-orang yang hatinya diliputi kebencian, permusuhan, dan kekerasan. Jujur saja lah kita akui. Kejadian di Selandia Baru, di Surabaya, di Perancis, di Pittsburgh, Kanada, di Myanmar, dan bahkan di masjid di Bloomington, Minnesota, atau di tempat kelahiran saya Yogyakarta adalah beberapa dari contoh yang nyata bahwa kebencian dan kekerasan bukan monopoli satu kelompok agama saja.

Saya yakin yang patut dipersalahkan bukanlah agamanya. Tapi pelakunya, nafsunya, dan kebencian di dadanya.

Sungguh pedih hati saya ketika ada orang yang bilang semua Muslim adalah teroris dan saya dimusuhi hanya karena saya Muslim. Saya percaya agama saya mengajarkan perdamaian.

Ini juga sama saja, tidak lah adil kalau pelaku terorisme beragama tertentu dan dari ras tertentu, seperti yang terjadi di Selandia Baru, kemudian kita benci semua yang seagama atau satu ras dengan si pelaku.

Lingkaran ‘aku benci kamu dan kamu benci aku’ yang terjadi tidak akan menguntungkan siapapun, hanya akan menjadikan kemanusiaan sebagai korban. Ini harus dihentikan sekarang juga, mulai dari kita!

Saya tahu, saya mengerti, dan saya pun merasakan kesedihan yang sama denganmu wahai saudara-saudariku seiman. Tapi ada baiknya kita tidak menjadikan ini sebagai alasan untuk membenci dan menyebarkan ujaran kebencian. Mari kita doakan korban agar diterima syahid-nya di hadapan Allah. Mari kita doakan pelaku agar bertaubat dan mari kita doakan agar orang-orang lain tidak melakukan hal yang sama dengan pelaku. Mari kita doakan keselamatan dan kedamaian umat manusia dalam menjalankan keimanannya.

Teruntuk saudara-saudariku dalam kemanusiaan, yang beragama lain ataupun yang tidak percaya pada agama, saya tahu kita punya banyak perbedaaan. Tapi saya yakin kita punya satu kesamaan, kita ingin hidup damai dan bahagia. Jadi boleh kan ya kita saling menghargai dan menyanyangi sebagai sesama manusia? Bisa kan ya kita hentikan ujaran kebencian ini sama-sama? Biarkan saja yang berbeda tetap berbeda, tapi kita sama-sama tidak ingin ada manusia melayang nyawanya sia-sia hanya karena kebencian yang kita jaga baranya. Ini semua harus berhenti sekarang. Berhenti karena kita!

Saya tidak ingin merasa ketakutan hanya untuk sekadar pergi beribadah dan seharusnya tidak ada seorang pun yang takut pergi ke rumah ibadahnya.

Saya tidak ingin merasa takut keluar rumah hanya karena jilbab yang ada di kepala saya dan seharusnya tidak ada seorang pun yang takut keluar rumah hanya karena keyakinan yang dipercayainya.

Ini semua bisa dimulai dari kita. Mulai dari sekarang. Mulai dari sekadar menghentikan prasangka buruk kita kepada umat yang berbeda. Mulai dari sekadar tidak mengomentari sesuatu yang tidak kita mengerti.

Iya, mulai dari kita semua, baik yang seagama dengan saya maupun yang berbeda. Kita semua sama. Sama-sama tidak ingin kejadian di Selandia Baru dan di tempat lain terulang lagi.

Jika kamu sayang kami (dan seluruh umat manusia di bumi) maka hentikan lingkaran kebencian ini.

Lingkaran kebencian ini harus diputus dan dihapus, sebelum kemanusiaan menjadi pupus.

—————————————————————————————————————————————

NB: Gambar yang saya pakai sebagai sampul dalam tulisan ini didapat dari sini: https://www.aliexpress.com/item/Islamic-Muslim-Vinyl-Wall-Sticker-Home-Decor-Peace-Be-Upon-You-Quote-Lettering-Wall-Decal-For/32712662410.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s