8 Cara Supaya Ulasan Kuliner Kita Makin Joss!

Sering kali saya melihat teman-teman saya di media sosial mengeluhkan gaya para foodie atau food reviewer alias pengulas makanan ketika menyampaikan ulasannya karena beberapa dari mereka menggunakan kata-kata kurang masuk akal seperti, “enak banget ya ampun, sampai mau meninggal rasanya…” atau menggunakan kalimat yang sama sekali tidak menjelaskan mengapa makanan yang sedang dinikmati dianggap enak, seperti “enak banget, nggak tau lagi mau ngomong apa..”

Saya geli juga sih kadang-kadang. Kalau tidak tahu mau ngomong apa, terus bagaimana kita yang nonton atau lihat ulasannya bisa dapat gambaran enaknya seperti apa ya?

Jadi lewat tulisan ini saya mau membagikan saran bagaimana kita bisa mengulas makanan dengan lebih joss dan tidak perlu sampai bilang, “rasanya kayak mau meninggal.” Kan bahaya kalau meninggal beneran kan? Hehehee

Di bawah ini ada 8 hal yang bisa membuat ulasan kuliner kita lebih joss. Jika memang bisa diterapkan semuanya, saya rasa akan lebih baik.

Jika pun karena keterbatasan media maupun waktu kita tidak bisa menerapkan semuanya, tidak masalah. Dengan menerapkan dua atau tiga elemen penting di bawah ini, ulasan kuliner Insya Allah sudah jauh lebih baik daripada sekadar yang, “tidak tahu mau ngomong apa lagi.” Hahahaha

 

  1. Ulas Visualnya

Menikmati sajian kuliner itu sesungguhnya adalah pengalaman multiindera, bukan hanya lidah saja yang bekerja, tapi juga mata dan hidung. Dari situ, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengulas sajian kuliner tersebut secara visual.

Yang bisa kita lakukan pertama kali mungkin sesederhana mendeskripsikan apa saja yang di hadapan kita. Misalnya jika sedang mengulas semangkuk soto, kita bisa mendeskripsikan isinya seperti: “ada tomatnya, ada kolnya, suwiran ayam, dan juga taburan bawang goreng dan daun seledri.”

Selanjutnya, kita bisa deskripsikan apa yang menarik secara visual dari sajian kuliner tersebut. Misalnya dengan mengatakan bahwa sajiannya menarik karena mengunakan sayuran yang beraneka warna. Atau sedang membahas brownies misalnya, kita bisa menunjukkan kepada audiens warna brownies-nya kinclong shining simmering splendid gitu.

Kita juga bisa mendeskripsikan warnanya sekaligus menambahkan informasi penting seperti jika kita sedang mengulas Wedang Uwuh, kita bisa mendeskripsikan warnanya yang kemerah-merahan karena ada kayu secangnya.

 

  1. Jelaskan Aromanya

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, menikmati sajian kuliner adalah pengalaman multiindera yang juga melibatkan indera penciuman. Sehingga kita juga bisa mengulas sajian kuliner dari sisi indera penciuman.

“Baunya sedap banget!” Begitu ya biasanya orang mendeskripsikan makanan yang enak.

Tapi sesungguhnya bisa kita eksplorasi lagi lebih lanjut dengan mendeskripsikan aroma apa yang kita cium. Misalnya ketika mengulas sajian kolak dan harumnya semerbak rempah, kita bisa mendeskripsikan contohnya dengan, “aromanya enak nih gaes, harum rempah dari kayu manis dan cengkeh yang dipakai untuk membuat kolaknya.

Jadi audiens yang menonton atau membaca ulasan kita jadi punya gambaran lebih detail sekaligus buat yang belum tahu jadi tahu bahwa aroma rempah legit yang ada di kolak yang sedang kita ulas adalah dari kayu manis dan cengkeh. Jadi nambah pengetahuan deh!

 

  1. Deskripsikan Rasanya

Mengulas sajian kuliner tentu saja tidak mungkin tidak mengulas rasa. Ulasan seperti, “enak banget nih!” sebenarnya ya tidak masalah. Tapi akan lebih joss lagi kalau kita bisa deskripsikan apa yang membuatnya enak.

Berhubung selera satu orang dengan yang lain beda-beda, mendeskripsikan rasa dengan lebih detail bisa membantu audiens kita untuk membayangkan rasanya. Misalnya makanan yang kita coba rasanya enak karena gurih karena ada saus tiramnya, kita bisa menjelaskan dengan contohnya begini, “enak nih gaes, gurih saus tiram gitu.”

Jadi orang bisa membayangkan enaknya yang seperti apa. Bukan hanya sekadar enak saja.

  1. Jelaskan dan/atau Tunjukkan Teksturnya

Bagian menunjukkan tekstur ini sebenarnya sudah lebih sering diulas sih. Biasanya kalau di video-video itu diperlihatkan misalnya menujukkan teksturnya lembut dengan memotong kue dengan garpu, atau misalnya pempek yang tidak alot ditunjukkan dengan cara dibagi dua dengan menggunakan tangan hampa.

Tapi tanpa menujukkan dengan aksi garpu atau tangan, kita sebenarnya bisa mendeskripsikan tekstur sajian kuliner dengan misalnya mengombinasikan dengan deskripsi visualnya (seperti pada poin 1). Misalnya, “teksturnya renyah krenyes-krenyes karena ada kecambahnya.”

Membahas tekstur ini juga bertujuan supaya audiens kita tidak salah harapan. Misalnya nih, nastar kan ada yang modelnya lembut lumer di mulut tapi ada juga yang mahzab nastar renyah. Selera masing-masing sih lebih suka yang mana. Jadi dengan kita menjelaskan tekstur nastar yang sedang kita cobain, jika audiens kita tertarik untuk mencoba, mereka punya ekspektasi yang lebih jelas atas teksturnya.

 

  1. Tambahkan Hal-hal Lain yang Beda/Khas

Selain membahas 4 poin penting di atas, kita juga bisa menambahkan info tambahan lainnya yang menarik, berbeda, atau khas. Misalnya kita bisa menambahkan info kalau produknya sudah bersertifikat halal, produknya bisa di beli di mana, maupun sejarah sajian kuliner yang sedang dibahas. Jadi lebih informatif gitu.

Oh iya, ada baiknya juga menyebutkan harganya. Saran saya, jangan hanya disebutkan murah atau mahal, karena murah dan mahal itu kan relatif ya? Tergantung pada memang bahan bakunya, daerah tempat belinya, atau juga tergantung keadaan ekonomi masing-masing sih.

Jadi ada baiknya disebutkan saja harganya, kemudian ditambahkan informasi apakah dengan harga segitu itu termasuk murah atau mahal untuk standar bahan baku dan lokasi pembeliannya.

View this post on Instagram

•Samgyetang at @halalkitchenkorea• ⁣⁣ ⁣⁣ Salah satu masakan khas Korea yang wajib dicobain nih, Samgyetang alias sup ayam dengan gingseng dan jojoba. Baik untuk kesehatan, terutama kalau hawa lagi dingin. ⁣⁣ ⁣⁣ Di Halal Kitchen Korea ini satu porsi sup bisa untuk berdua, termasuk nasi dan aneka kondimen. Harganya KRW 32,000 atau sekitar Rp 385.000. Lumayan agak mahal, tapi juga karena di tempat lain agak susah cari yang halal, jadi ini tetap wajib dicobain. ⁣⁣ ⁣⁣ Rasa sup ayamnya tidak terlalu gurih tajam semacam sup ayam Pak Min ya, hehehehe. Lebih ke gurih lembut dan ada rasa hangat dari gingseng dan rasa manis kalau pas kita gigit jojobanya. ⁣⁣ ⁣⁣ Kalau makan di Halal Kitchen ini akan dilayani langsung oleh Pak Hassan Lee, pemilik restorannya, orang Korea muslim. ⁣⁣ ⁣⁣ Pak Hassan dan yang membantu melayani para pelanggan bisa bahasa Melayu sedikit-sedikit, dan lancar bahasa Inggris. Jadi cukup mudah untuk berkomunikasi dengan mereka. ⁣⁣ ⁣⁣ Lokasi restorannya cukup dekat dengan Bukchon Hanok Village. Jadi sekalian jalan-jalan, makan di sini. Eh tapi perlu dicatat, setiap jam 15:00-17:00 restorannya tutup untuk istirahat. 😉⁣⁣ ⁣⁣ #samgyetang #chickensoup #supayam #koreanfood #food #foodie #travelandfood #travelandfoodblogger #traveldiary #Bukchon #bukchonhanokvillage #Seoul #Korea #SouthKorea #visitkorea

A post shared by Terry Perdanawati (@terry_perdanawati) on

 

  1. Tambah Pengetahuan dan Pengalaman Kuliner Kita

Untuk melakukan poin 1-5 di atas memang membutuhkan pengetahuan dan pengalaman kuliner yang lebih sih, soalnya kan kita gak cuma pingin bilang, “nggak tahu lagi mau ngomong apa!”

Jadi memang kudu tahu apa yang mau diomongin. Kita bisa belajar dari banyak sumber misalnya buku-buku, artikel di internet, maupun video Youtube yang mengulas tentang makanan atau hal-hal seputar kuliner dan masak-memasak. Eh bisa juga lho dari ulasan orang lain buat jadi referensi kita gitu.

Pengalaman kuliner juga kudu ditambah. Makin sering kita merasakan sajian kuliner yang beragam, makin luas pengalaman kita. Makin terbuka kita pada keragaman kulier yang ada, makin terbuka juga wawasan kita. Selera boleh tetap sama, tapi wawasan perlu juga dibuka!

Eh tambahan lagi nih. Kalau kita diminta atau dapat kerjaan mengulas produk kuliner, jangan lupa juga minta info seputar produknya atau biasa disebut product knowledge, supaya kita tahu apa yang perlu diangkat dan ditonjolkan.

  1. Bisa Tambahkan Jargon atau Gimmick Khas ala Kamu

Yang ini sifatnya bebas alias optional sih. Tapi kalau mau lebih asyik juga boleh ditambahkan jargon tertentu atau gimmick khas ala kamu. Contohnya seperti “maknyuss” ala alm Pak Bondan Winarno.

Kita juga bisa punya kata-kata atau jargon yang jadi ciri khas kita sendiri yang selain khas juga bisa jadi kode. Konon, kalau Pak Bondan bilang “maknyuss” berarti benar-benar enak, kalau lumayan maka istilahnya “top markotop” dan kalau biasa aja jadinya hanya “sip markosip”.

Kira-kira kamu mau pakai istilah apa nih buat jargon kuliner khasmu? Hehhee

8. Modifikasi dengan Gaya Bercerita (Story Telling)

Selain mengulas sajian kulinernya sendiri, kita juga bisa memodifikasinya dengan gaya bercerita yang lebih fokus pada pengalaman kita saat menyantap hidangan tersebut.

Model yang seperti ini memang jadinya tidak terlalu fokus pada rasa makanannya sendiri tapi lebih menitikberatkan pada pengalaman di balik menyantap sajian tersebut. Sah-sah aja sih menurut saya.  Hehehe

View this post on Instagram

•Afternoon Tea in London•⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣ Hari ini saya ditraktir putri-putrian sama Pak Jay, menikmati afternoon tea di London.⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣ (((PUTRI-PUTRIAN)) 🙊🙊⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Tradisi ini awalnya diciptakan oleh Anna, the 7th Duchess of Bedford, yang meminta disediakan cemilan pada sore hari karena jarak antara jadwal makan siang dan makan malam di rumahnya lama, jadi sorenya dia udah lapar. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Selain menikmati camilannya sendirian, dia juga sering mengundang teman-temannya untuk ikutan. Kemudian kebiasaan ini berkembang jadi salah satu budaya di Inggris. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Secara umum sih selain minum teh juga ada aneka sandwich. Lalu setelah makan sandwich urutannya adalah makan scones dengan olesan clotted cream dan selai buah. Setelah itu adalah aneka dessert. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Di London ada beberapa tempat yang menyediakan menu afternoon tea halal, dengan pemesanan maksimal 48 jam sebelumnya. Termasuk di tempat kami kentjan tadi. ☺️⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Meskipun makanannya kecil-kecil gitu, tapi kenyang banget! Kami tidak sanggup makan semuanya. Udah gitu, habis afternoon tea nggak makan malam lagi soalnya udah kenyang. 😝⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ #afternoontea #afternoonteatime #MilestoneHotel #afternoonteadate #couple #couplegoals #travel #traveling #traveldiary #travelblogger #travelandfood #travelgram #London #UK #UnitedKingdom #visituk⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣

A post shared by Terry Perdanawati (@terry_perdanawati) on

Demikian tadi 8 saran dari saya agar ulasan kuliner kita lebih joss dan mantap!

Sementara itu dulu ya. Jika ada yang mau menambahkan saran agar ulasan kuliner kita makin joss, bisa menambahkan di kolom komentar. Terima kasih!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s