Tumbuh Bersama Kekalahan-kekalahan: Sebuah Refleksi Awal Tahun 1442 H

Orang bilang kalau hidup bukan urusan menang atau kalah, tapi buktinya sering kali kita merasa kalah. Tidak melulu tentang kalah dari orang lain, kadang kita merasa kalah dari keadaan, dari diri kita sendiri, dan dari hal-hal lainnya.

Di sisi lain, orang juga bilang kalau kita bisa belajar dari apapun yang kita alami dan rasakan. Menurut saya, termasuk juga dari kekalahan.

Hari ini tadi saya kepikiran kalau ternyata selama ini saya tumbuh bersama kekalahan-kekalahan saya. Kekalahan yang saya tangisi, yang saya sesali, tapi ternyata sekian tahun kemudian saya syukuri keberadaannya karena membuat saya banyak belajar.

Di tulisan ini saya akan berbagi cerita tentang kekalahan-kekalahan saya selama lebih dari seperempat abad saya hidup. Kekalahan yang saya syukuri adanya…

 

Belajar Menyikapi Kekalahan dari Orang Tua Saya

Orang tua saya bukan orang tua yang memaksa kami anak-anaknya untuk ikut lomba ini dan itu. Tapi jika kami mau, mereka akan mendukung. Yang menarik adalah apapun hasilnya, menang atau kalah, sikap mereka tidak berbeda.

Saya ingat waktu SD, saya sering sekali ikut lomba. Dari siang sampai malam, Bapak dan Ibu menemani saya persiapan dan ikut lomba. Apapun hasilnya, menang atau kalah, Bapak akan traktir saya gudeg atau bakmi Jawa. Tidak ada bedanya saya menang atau kalah.

Waktu adik saya menang olimpiade sains tingkat Propinsi, orang tua saya bangga. Ketika adik saya tidak menang di olimpiade sains tingkat Nasional, orang tua saya tetap bangga. Lho ya kalau dipikir-pikir, kenapa tidak? Tidak semua orang bisa menang olimpiade sains tingkat RT sekali pun kan? Apalagi tingkat Nasional? Hehehee

Dua adik saya yang terakhir, sering ikut lomba di salah satu cabang olahraga, dari tingkat RT sampai tingkat Nasional. Mereka menang atau kalah, suasana rumah kami akan sama saja. Walau ada sedih-sedih awalnya kalau ada yang kalah, tapi tidak lebih dari 30 menit. Setelah itu kami akan ngakak-ngakak lagi. Sama seperti hari-hari di mana tidak ada lomba.

Dari sikap orang tua saya yang tidak berbeda ketika anaknya menang atau kalah membuat saya belajar secara langsung bahwa menang dan kalah adalah hal yang biasa saja. Semacam bagian dari hidup kita yang tidak bisa kita hindari.

 

Menerima Kekalahan, Memperbaiki yang Bisa Diperbaiki Kemudian

Pada suatu hari, saya ikut lomba yang biasanya saya juara tiga besar. Tapi hari itu saya hanya Juara Harapan II. Padahal menurut Ibu saya nih, performa saya seperti biasanya dan kontestan lain juga tidak jauh beda dari lomba-lomba biasanya. Herannya lagi, salah satu jurinya adalah pelatih saya. Lho kok bisa gitu ya saya cuma Juara Harapan II?

Meskipun ada banyak pertanyaan di kepala Ibu saya, Ibu cuma rasan-rasan saja dengan Bapak. Tapi keduanya bersikap seperti biasa. Pulang lomba, kami makan gudeg lagi. Udah gitu aja.

Lain waktu, ketika saya habis latihan, Ibu saya mendatangi pelatih saya dan bertanya. Kira-kira begini, “maaf mas, sebelumnya. Cuma mau tanya aja ya buat perbaikan. Yang lomba kemarin kira-kira Terry kurangnya di mana ya?”

Pelatih saya mulai memberi tahu ibu saya hal-hal yang kurang pas saat saya ikut lomba tersebut. Hal-hal yang Ibu saya dan saya bahkan baru tahu kalau seperti itu dinilai juga dan ada standarnya. Sebelumnya kami tidak tahu karena tidak ada dalam materi latihan saya dan juga jarang disampaikan dalam technical meeting sebelum lomba.

Dari situ Ibu saya dan saya belajar. Lalu memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Lomba besoknya lagi ya saya juara tiga besar lagi dunk ya! #halah

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi jika ibu saya emosi dan tidak terima kenapa saya tidak juara tiga besar padahal performa saya tidak jauh beda dari biasanya dan kontestan lain pun juga, udah gitu jurinya ada pelatih saya pula.

Tapi Ibu dan Bapak saya memilih menerima keputusan juri. Lebih baik dari itu, ibu saya juga meminta saran dari juri yang juga kebetulan pelatih saya.

Dari situ saya belajar untuk menerima kekalahan dalam hal apapun. Kadang kita punya kekurangan yang tidak sadari. Kita perlu pandangan dari orang lain yang bisa membawa kita ke sebuah pengetahuan baru, kemenangan baru, atau sekadar kesadaran baru.

 

Tidak Perlu Malu untuk Merasa Kecewa, Sedih, dan Hancur

Bukan cuma urusan lomba, saya pernah merasa kalah, dua kali pula, gara-gara gagal dalam membuat usaha sendiri. Ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan saya, kekalahan saya.

Kali ini bukan kalah lomba. Bukan pula kalah dari orang lain.

Tapi efeknya justru lebih berat. Saya merasa marah, kecewa, sedih, dan hancur. Parahnya lagi, yang terakhir malah saya jadi punya beban keuangan yang baru bisa saya selesaikan sekian tahun kemudian, lebih tepatnya enam tahun kemudian. Edan kan? Nah itu lah yang berhasil membuat saya nangis sesenggukan di pojokan kamar. Tiba-tiba punya hutang jutaan rupiah, gaes!

Saya akui saja kalau saya kecewa, sedih, dan merasa hancur. Tidak perlu saya sangkal dan hindari.

Saya belajar dari kegagalan yang sebelumnya. Sering kali dalam keadaan kecewa, sedih, dan merasa hancur, saya membuat sebuah keputusan yang salah. Jadi waktu itu saya biarkan saja dulu rasa kecewa, sedih, dan hancur menyibukkan saya sementara. Tanpa membuat keputusan apa-apa.

Tapi sekitar satu jam kemudian, saya ingat kembali bagaimana sikap orang tua saya ketika saya kalah lomba dulu. Maka saya mencoba bersikap sama seperti biasanya. Saya jajan mie ayam seperti biasanya.

Selama makan mie ayam, saya jadi terpikir apa yang bisa saya lakukan selanjutnya. Yang pertama tentu saja mencari solusi supaya saya bisa menyelesaikan kewajiban-kewajiban ekonomi yang jadi tanggung jawab saya. Ya sudah saya fokus di situ saja dulu.

Menghadapi segala kekalahan memang tidak mudah. Kita terima saja kekalahan ini, boleh saja tersesat dulu sementara dalam rasa kecewa, sedih, dan hancur. Tapi setelah itu jangan lupa untuk kembali lagi demi mencari solusi.

Seperti kata Bu Tejo dalam film “Tilik”, jadi orang itu mbok yang solutif! Hehehe

Bu Tejo: Dadi wong ki mbok sing solutip
Sebuah meme yang viral di twitter kemarin dari karakter Bu Tejo dalam film “Tilik”. Meme ini saya ambil dari twit @penjahatgunung.

Kalah Tidak Sama Dengan Buruk

Kalau tidak salah, di akhir-akhir masa kuliah saya, saya ikut sebuah seleksi. Kabarnya, dalam seleksi tersebut ada lebih dari 1.000 orang pendaftar.

100 orang pendaftar terpilih diundang untuk seleksi wawancara dan tes selanjutnya. Saya termasuk salah satunya.

Dari 100 pendaftar terpilih, ada belasan orang yang diundang untuk karantina. Saya termasuk salah satunya.

Dari belasan finalis tersebut, hanya dua yang terpilih untuk mendapatkan kesempatan ikut kegiatan bertaraf internasional.  Saya tidak termasuk di dalamnya.

Bapak saya tanya, “gimana pengumumannya, mbak?”

Saya jawab santai, “tidak terpilih, Pak. Tidak apa-apa, saingannya di final pintar-pintar dan hebat-hebat semua. Hehehe.”

Bapak saya bilang, “oh bagus kalau gitu ya? Berarti mbak Terry termasuk yang pintar dan hebat juga.”

Pernyataan Bapak membuka kesadaran baru di kepala saya. Bahwa sesungguhnya saya bisa saja pintar dan hebat (ya setidaknya satu dari belasan orang yang dipilih dari 1.000 pendaftar kan ya? HAHAHA), tapi tetap saja ada orang yang lebih baik dari saya, lebih pintar dari saya, dan lebih hebat dari saya.

Bukan berarti saya buruk. Tapi memang ada yang lebih baik. Saya tidak perlu rendah diri, atau malah dendam sama jurinya ahahaha, saya hanya perlu menerima kenyataan ini saja.

Sampai sekarang saya masih berteman dengan para finalis tersebut, walau kadang ya cuma saling sapa saja di media sosial. Hari demi hari saya lihat bagaimana mereka tumbuh menjadi orang-orang yang hebat dan tidak hanya bertebaran di seluruh Indonesia, tapi di dunia juga. Bisa dibilang, mereka adalah sekian belas dari orang-orang hebat yang seumuran saya di Indonesia.

Dari pertemanan kami, saya belajar banyak dari mereka. Terinspirasi oleh capaian-capaian mereka, ide-ide brilian mereka, dan kerja keras mereka.

Dari situ saya belajar bahwa mengelilingi diri dengan orang-orang hebat, yang bahkan lebih hebat dari diri kita sendiri, membantu kita untuk tumbuh dan berkembang lebih baik.

Gengsi tidak bikin kenyang! Telan saja gengsi diri. Akui saja kalau kita bukan yang terbaik sundul langit tiada tandingan.

Dari situ kita jadi bisa belajar dari orang-orang yang lebih baik dan lebih hebat dari kita, sekalipun mereka seumuran aja atau malah lebih muda dari kita.

Sekali lagi, gengsi tidak bikin kenyang, gaes..

 

Selama Nyawa Masih Melekat di Badan….

Saya percaya selama nyawa masih melekat di badan, kita masih akan merasa menang, kalah, senang, sedih, kecewa, bangga, dan lain-lain.

Kalau sudah tidak bernyawa, baru lah kita tidak akan merasakan apa-apa. Maka dari itu, jangan pernah berhenti sebelum nafas terhenti untuk selamanya.

Seberapa sering pun kita kalah, jangan berhenti. Belajar dari situ. Kalau pun kita belum menang juga, setidaknya kita sudah lebih baik daripada saat kita kalah pertama dulu.

Hal ini saya belajar dari suami saya, Pak Jay.

Saat awal kami menikah dulu awal 2014, Pak Jay sudah gagal 10 kali berturut-turut. Mengirimkan proposal karya, mendaftar festival, dan mendaftarkan residensi. Semuanya gagal. Pak Jay kalah. Kalah berkali-kali. Mulai dari dikirimi email isinya penolakan hingga tidak mendapatkan jawaban apapun.

Saya masih ingat bagaimana saya memeluk tubuh lemasnya saat dia bilang, “apa aku tidak pantas? Apa karyaku buruk?”

Dari pengalaman saya mengalami sekian banyak kekalahan sebelumnya, saya jawab dengan tenang, “karyamu bagus, tapi mungkin ada yang lebih bagus, yang lebih cocok dengan programnya. Apa kamu mau coba daftar yang lain lagi? Kamu mau coba lagi buat karya yang lebih bagus? Mau aku bantuin buat proposal yang lebih baik dari sebelumnya? Aku juga akan belajar apa yang bisa aku lakukan untuk bantu kamu. Gimana?”

Pak Jay mengangguk. Tidak lama setelah itu, ada satu proposalnya yang diterima, yang efeknya masih kami rasakan hingga saat ini. Sebuah kemenangan yang membuka kesempatan-kesempatan lainnya, yang masih terasa hingga 6 tahun kemudian.

Kemenangan itu datang setelah 10 kali kekalahan yang menyakitkan. Kemenangan itu mungkin tidak akan datang jika saja 10 kali kekalahan menyakitkan itu membuatnya menyerah.

 

Menerima Kekalahan: Lebih Mudah Diucapkan daripada Dilakukan

Oh tentu saja saya percaya! Menerima kekalahan memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Selalu ada godaan lain seperti rasa gengsi dan kadang juga rasa ingin menyalahkan orang lain. Terus juga ada juga godaan buat mencela orang lain, seperti “halah kayak gitu aja kok menang!” HAHAHA

Tapi hal yang sulit bukan tidak mungkin buat dicoba kan?

Kalau dalam pengalaman saya, menerima kekalahan dalam lomba maupun dalam kehidupan membuat saya lebih mudah untuk berbenah dan belajar, karena saya sadar saya ini bukan orang yang sempurna. Ada lebih banyak orang yang lebih hebat dari saya, ada banyak hal yang masih harus saya pelajari.

Menerima kekalahan juga membuat saya jadi lebih mudah berdamai dengan diri saya sendiri. Ini cukup penting untuk menghadapi kehidupan yang sering kali mengejutkan, ada banyak jebakan Batman dalam setiap enggok-enggokan (tikungan).

Menerima kekalahan juga membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi saya nggak nyebelin, kalau berbuat kesalahan, saya tidak menyalahkan orang lain. Kalau gagal, saya tidak mencari kambing hitam.

Sekali pun dalam beberapa kegagalan saya ada kontribusi orang lain juga, tapi saya lebih fokus ke apa yang bisa saya perbaiki. Orang lain mah bukan urusan saya juga mau memperbaiki diri atau tidak sih. Hehehe

 

Mempersiapkan Kemenangan

Tidak adil rasanya kalau saya panjang lebar menceritakan apa yang saya pelajari dari kekalahan saya tapi tidak menceritakan apa yang saya pelajari dari kemenangan saya kan? Hehehe

Salah satu kemenangan yang saya selalu ingat sejak 20 tahun yang lalu adalah kemenangan saya bersama tim Cerdas Cermat Agama kampung saya. Di kampung kami, ada Pengajian Anak-anak, masih ada sampai sekarang.

Waktu itu, saya dan dua teman saya (Mita dan Toro) adalah satu tim lomba anak-anak untuk kategori cerdas cermat agama. Tim kami tak terkalahkan. Unstoppable lah istilahnya. Mau tingkat antar kampung atau tingkat propinsi, kami tidak pernah tidak Juara 1. Saya sampai lupa berapa piala yang pernah kami bawa pulang ke masjid kami. Pokmen lumayan lah.

Rahasianya cuma satu: taktik belajar kami beda dengan yang lain. Kami tahu setiap lomba cerdas cermat agama pasti tidak jauh-jauh dari urusan rukun-rukun ibadah, ayat suci dan hadist, dan sejarah Islam.

Mita rajin dan hapal semua rukun-rukun ibadah. Untuk urusan urutan rukun haji, rukun shalat, dan tata cara-tata cara peribadatan, dia jagonya. Maka kami memberi dia tugas untuk selalu belajar bagian ini.

Toro pandai baca Al-Quran. Lancar dan bacaannya bagus. Dia juga hapal banyak ayat Al-Quran dan juga hadist. Maka sepakat kalau urusan belajar ayat dan hadist adalah jatahnya dia.

Sedangkan saya, sejak dulu hobi baca buku sejarah. Mau sejarah dunia, sejarah nasional, sejarah Islam, dan sejarah apapun saya suka baca. Jadi ini jatah saya.

Setiap kali lomba cerdas cermat babak rebutan, bisa dipastikan tangan yang siap memencet tombol biasanya tidak lebih dari satu tangan saja. Meskipun saya ketua timnya, tapi tidak selalu tangan saya yang ada di tombol. Tergantung jenis pertanyaannya saja. Setiap anggota tim kami tidak menguasai semua hal, tapi kami saling bertanggung jawab pada hal yang paling kami kuasai.

Jadi ketika ada pendamping dari tim pengajian dari masjid lain tanya, “kok kalian pintar sih? Pertanyaannya apa aja bisa jawab. Padahal kan banyak yang harus dipelajari kan?” saya, Mita, dan Toro hanya senyum-senyum saja.

Ya karena kami tahu bahwa kami tidak perlu menguasai semua hal. Kami hanya perlu mengasah di bagian mana hal yang paling kami kuasai. Yang penting teman satu timnya juga melakukan hal yang sama.

Dari kemenangan demi kemenangan yang saya raih bersama tim saya ini, saya belajar bahwa salah satu kunci kemenangan dalam hidup adalah kreativitas. Tantangannya boleh sama, tapi kreativitas dalam menjawab tantangan (seperti membagi tugas belajar dalam tim) adalah sebuah jawaban untuk menjadi menang tanpa perlu hebat di seluruh bidang.

Dikelilingi orang yang mau bekerja sama dengan kita dan bertanggung jawab pada kewajibannya juga menjadi salah satu kunci kemenangan hidup kita.

Apalagi di zaman seperti sekarang ketika kolaborasi menjadi salah satu hal yang lebih mudah. Thanks to internet!

Setiap orang punya keahlian masing-masing dan berkolaborasi dengan orang-orang yang punya keahlian lain, maupun yang keahliannya sama dengan kita, bisa jadi jawaban untuk meraih kemenangan hidup kita.

Saya jadi ingat sebuah kesimpulan dari forum rasan-rasan kami dulu di Jogja:

Jaman saiki kiy diakehi kolaborasi, ora mung kompetisi. Tapi kolaborasi kiy kudu nganggo mbukak utek karo ati, nek ora yo mung njelehi.”

Kira-kira terjemahannya sebagai berikut: zaman sekarang kita harus memperbanyak kolaborasi, bukan cuma kompetisi. Tapi kolaborasi perlu pakai membuka otak dan hati (terutama terhadap perbedaan), kalau tidak ya cuma jadi menyebalkan.

Cukup panjang juga ya saya cerita tentang kekalahan dan tentang kemenangan. Tapi pada ujungnya ini saya masih mau menambahkan bahwa segala kekalahan dan kemenangan dalam hidup kita adalah bagian dari suratan Illahi. Bagaimana kita memaknainya, lha itu tergantung kita sendiri.

Semoga bermanfaat. Semoga kita mampu tumbuh bersama kekalahan-kekalahan (dan juga kemenangan) kita.

Semoga di awal tahun Hijriyah ini kita mampu hijrah dari diri yang merasa lemah karena kalah menjadi diri yang tumbuh bersama hikmah. Semoga sukses selalu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s