Berteman dengan Pasangan

Berteman dengan pasangan? Maksudnya bagaimana?

Mungkin awalnya akan ada pertanyaan seperti itu karena banyak dari kita yang ketika punya pasangan, ya menganggap pasangan “hanya” sebagai pasangan saja. Walau sebenarnya satu orang bisa saja punya posisi lebih dari satu dalam hidup kita lho ya.

Kalau dalam hidup saya, malahan pasangan saya punya tiga posisi yang sangat berbeda. Yang pertama tentu saja sebagai suami. Ini tidak perlu diperjelas lagi ya kayaknya? Hehehe

Posisi yang kedua adalah sebagai rekan kerja. Untuk beberapa orang yang pernah kerja sama dengan kami, mungkin sudah tahu kalau ada beberapa proyek pekerjaan yang kami kerjakan berdua. Dalam keadaan yang demikian, kami bisa langsung berubah menjadi rekan kerja yang setara dan no drama-drama hahaha.

Selain itu, kami juga tidak pernah memutuskan hubungan pertemanan kami walaupun sekarang statusnya suami-istri. Saya dan Pak Jay dulu memulai hubungan kami sebagai teman. Setelah beberapa tahun jadi teman biasa, baru mulai pacaran dan akhirnya menikah. Tapi sampai sekarang kami tetap berteman sambil menikah. TTM gitu deh. Teman tapi menikah. #halah

Oh iya, definisi pertemanan buat saya bisa jadi berbeda dari definisi orang lain ya atau bisa juga sama. Jadi ada baiknya saya jelaskan yang saya maksud dengan teman itu yang seperti apa.

Buat saya, seseorang punya posisi sebagai kenalan jika saya kenal namanya dia dan dia kenal nama saya. Mungkin pernah mengobrol sekali atau dua kali. Sedangkan teman adalah seseorang yang lebih dari sekadar pernah ngobrol sekali dua kali.

Teman adalah seseorang yang pernah dan/atau masih saling berkomunikasi walau tidak terlalu sering sekalipun. Ini termasuk teman sekolah, teman kuliah, maupun teman dari lingkungan tempat tinggal maupun pekerjaan.

“Friendship is a word, the very sight of which in print makes heart warm.”

Augustine Birrell

Sedangkan orang yang saya sebut dengan teman dekat/teman akrab/sahabat/teman ikrib adalah orang yang saya sangat peduli dengan mereka. Dalam hidup saya, tidak sampai 10 orang yang masuk dalam kategori ini.

Mereka adalah orang-orang yang ibaratnya nih tengah malam telepon saya dan butuh bantuan saya, pasti saya akan datang. I’ll come running!! (Disclaimer: kecuali kalau pandemi, terus kudu menyebrang samudera pula. Mikir-mikir dulu kalau ini. Hehehe)

Mereka-mereka ini orang-orang yang sudah tahu saya seperti apa, tapi tetap saja mau menerima saya apa adanya. Walau saya itu ya sebenarnya rada njelehi juga. Hahahaa

Mereka-mereka ini kalau satu persatu membocorkan hal-hal yang mereka tahu tentang saya, terus dikumpulkan jadi satu, bakal jadi sebuah edisi lengkap hidup saya dari mulai TK hingga di Minnesota. Tapi saya yakin sih mereka tidak akan ember. Hehehe

Pak Jay ada di level teman yang mana? Pak Jay ada di level teman ikrib saya yang paling ikrib, karena dia yang paling lengkap perbendaharaan pengetahuannya tentang rahasia saya, plus ya kami tinggal serumah kan ya? Otomatis lah..

Tapi emang apa bedanya sih ketika saya menganggap Pak Jay pasangan atau teman? Agak susah didefinisikan ya sebenarnya, tapi akan saya coba mendefinisikannya agar bisa jadi gambaran.

Ketika saya memposisikan Pak Jay sebagai pasangan, saya berusaha memberikan yang terbaik dari diri saya. Saya berusaha selalu mencurahkan rasa cinta dan membuat dia bahagia. Lha tapi kan namanya manusia ya? Saya pun punya sifat buruk yang kadang keluar dan bikin njelehi alias menyebalkan.

Ini termasuk dalam keadaan yang memicu perdebatan dalam rumah tangga. Dari hal-hal remeh semacam Pak Jay janji buang sampah tapi belum dibuang-buang (hahahaha!) sampai ke hal-hal yang agak besar seperti membuat keputusan penting dalam rumah tangga kami.

Hal-hal yang demikian (apalagi selama pandemi dan di rumah saja) bisa memicu rasa bosan. Eh ketemunya elu-elu terus sih ya? Hehehe

Tapi pertemanan kami ternyata yang menyelamatkan kami dari kebosanan maupun perdebatan-perdebatan dalam rumah tangga yang tidak perlu.

“Friendship is the purest love.”

Osho

Iya. Pertemanan kami yang membuat kami saling memahami kalau kami berdua sama-sama bisa jadi sangat njelehi dalam waktu-waktu dan situasi tertentu. Tapi namanya teman kan? Apalagi teman dekat, kita bisa menerima kalau tiba-tiba dia jadi njelehi.

Agak lebih susah jika kita cuma menganggap dia sebagai pasangan saja, karena jadinya kita cenderung berharap pasangan kita selalu sempurna dan tidak njelehi alias tidak menyebalkan. Padahal ya kayaknya langka ya orang yang bisa sama sekali tidak njelehi? hehehe.

Pertemanan kami juga membuat kami menjadi bisa lebih terbuka karena tidak perlu merasa sungkan atau takut pasangan sadar kalau kita tidak sempurna. Kami bisa menjadi diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya tanpa perlu khawatir pasangan pingin kita sempurna.

Soalnya ya itu tadi, tidak ada teman kami satu pun yang sempurna dan kami terima-terima aja diri mereka dengan bahagia. Begitu pula hubungan pertemanan di antara kami.

Pertemanan kami juga membuat kami bisa saling memberi masukan dengan woles dan jauh dari kesan menghakimi. Ya kayak kalau lagi kasih masukan ke teman gitu.

Memang ada nilai tambahnya juga ketika kami juga rekan kerja. Dari situ kami saling tahu bagaimana logika (dan algoritma) otak kami bekerja. Agak lebih mudah jadinya ketika mau membicarakan keputusan-keputusan rumah tangga karena sudah terbiasa jadi teman kerja. Ibaratnya sudah hapal sama pola pikirnya.

Eh ngomong-ngomong, ini saya juga mau sedikit kilas balik ngomongin mantan. Eh ciyeee… Hahaha

Dengan semua yang pernah dekat dengan saya, sepertinya memang waktu itu kami belum menerapkan hal-hal yang seperti ini. Jadi masih yang pasangan ya dianggapnya pasangan aja, tidak kepikiran untuk memposisikan sebagai teman.

Memang karena bisa dibilang hubungan kami-kami dulu tidak selalu dimulai dengan pertemanan yang lama, tidak seperti saya dan Pak Jay juga sih sebelum pacaran sudah berteman lama. Jadi rada sepaneng gitu. Ya ditambah darah muda, masih banyak wagunya. Hasilnya ya tidak berhasil. Walau ya karena tidak jodoh juga sih faktor utamanya. HAHAHAA

“All love that has not friendship for its base, is like a mansion built upon the sand.”

Ella Wheeler Wilcox

Tapi ya Alhamdulillah dalam hubungan pacaran dan pernikahan saya dan Pak Jay, kami tetap mempertahankan pertemanan kami. Sehingga kami bisa tetap nyaman walau tidak jarang udrek-udrekan dan eyel-eyelan. Cuma 10 menit – 30 menit biasanya udrek-udrekannya, habis itu udah makan bareng lagi, ketawa-tawa lagi.

Ada satu kutipan dari Friedrich Nietzche tentang pernikahan yang sering saya baca dalam postingan media sosial, “it is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages.”

Sampai sekarang saya masih belum terlalu paham sih ya maksudnya yang sebenarnya seperti apa, tapi ada satu kejadian yang membuat saya merasa pertemanan saya dan Pak Jay adalah elemen penting dalam hubungan pernikahan kami.

Pada suatu hari, saya lupa masalahnya apa, tapi intinya waktu itu saya dan Pak Jay sedang ada masalah. Teman ikrib saya semacam sadar dengan apa yang terjadi, kemudian dia bertanya kepada saya, “are you and Jay okay?”

Saya cuma jawab, “we’ll be fine.”

Saya memang tidak suka curhat-curhat masalah rumah tangga kepada orang lain, dengan teman dekat sekalipun. Apalagi ketika masalah tersebut masih mampu saya hadapi sendiri sih.

Selain itu juga saya merasa kami akan baik-baik saja juga. Memang benar sih pada akhirnya saya dan Pak Jay menyelesaikan masalah tersebut dengan mudah, dengan cara pertemanan kami. Semua bisa diobrolin. Ya ngobrol santai aja kayak nongkrong ama teman. Jadinya lebih relaks dan lebih mudah menguraikan masalah.

it is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages

Friedrich Nietzche

Sampai sekarang saya bahkan kadang tanya kepada Pak Jay, “eh, kita itu beneran apa udah nikah?” hehehe

Ya karena kadang kami merasa tidak banyak berubah dari masa pertemanan kami. Masih sama-sama iseng. Kalau ngobrol sering modelnya cewawakan kayak ngobrol sama teman. Cuma bedanya sih kalau sekarang beli-beli yang bayarin Pak Jay. Eh?!!

“Friendship marks a life even more deeply than love. Love risks degenerating into obsession, friendship is never anything but sharing.”

Ellie Weisel

Menurut saya pertemanan dengan pasangan tidak membuat hubungan suami-istri berkurang hikmatnya. Halah apa sih hikmat!

Tetap saja rasa saling menghormati dan mencintai selalu ada. Tapi dengan pertemanan yang terus dipertahankan, hal-hal berupa terlalu sepaneng dalam kehidupan rumah tangga lebih bisa dihindari. Setidaknya demikian dalam pengalaman saya.

Jadi kalau saya boleh menyimpulkan, saya dan Pak Jay ini selain sepasang suami-istri juga sesungguhnya semacam amigos para siempre gitu lah. Friends for life walaupun sok-sok njelehi. HAHAHAA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s