Bagaimana Caranya?

Satu pertanyaan yang sangat sering muncul di kepala saya selama 2020 ini adalah, “bagaimana caranya……?”

Ada banyak variasinya. Tapi kalau diurut terus sampai ke ujung, intinya adalah satu: bagaimana caranya bertahan?

Tahun 2020 ini memang bukan tahun yang mudah bagi banyak orang. Semua mungkin tahu kalau pandemi adalah penyebabnya. Namun sesungguhnya bukan cuma itu. Pandemi ini bagaikan domino, ambruk satu ngambrukin yang lain.

Saya juga mengalami efek domino dari pandemi ini. Setidaknya 50% dari sumber pendapatan saya hilang cling tanpa bekas. Meskipun saya tidak menyerah dan tetap berusaha yang terbaik, tetap saja tahun ini saya bekerja lebih keras dengan penghasilan lebih rendah. Pusingnya tambah tapi tabungan tidak.

Stress? Lha mosok tidak… Hahaha!

Udah gitu, obat stress saya yang paling ampuh ada tiga: belanja berlama-lama milih-milih yang mau dibeli walaupun itu sekadar beli bawang atau tahu, jalan-jalan, dan makan-makan bersama teman-teman. Tiga hal yang rada-rada mustahil dilakukan selama pandemi ini.

Maka bertanya lah saya pada diri saya sendiri: bagaimana caranya untuk bertahan?

Luruskan Niat

Eyang saya dulu sering sekali bilang, “sakabehane kuwi gumantung seka niat” (semua hal itu tergantung dari niat). Tentu ini maksudnya urusan ibadah ye kan kalau Eyang saya yang bilang? Hehehehe

Tapi menurut saya sih urusan meluruskan niat bukan cuma terkait ibadah saja, tapi terkait apapun. Jadi jawaban pertama dari pertanyaan saya, “bagaimana caranya untuk bertahan hidup?” adalah luruskan niat.

Niat utama saya selama pandemi ini adalah bertahan hidup. Sesederhana itu saja. Apapun akan saya lakukan untuk bisa bertahan hidup. Apalagi kalau caranya cuma rebahan. Gitu sih awalnya saya pikir.

Tapi ternyata muncul niat lain dalam diri saya selain bertahan hidup. Ternyata saya punya niat sok iyes, sok heroik, dan rada ambisius: menyelamatkan orang lain. Lha tapi bagaimana caranya saya bisa menyelamatkan orang lain hahaha. Wonderwoman, bukan. Tenaga kesehatan juga bukan. Ngayawara alias omong kosong!

Kemudian saya ingat sebuah ayat di Al-Quran yang menyatakan bahwa menyelamatkan satu nyawa manusia sama saja menyelamatkan seluruh manusia; menyebabkan satu kematian, sama saja membunuh seluruh umat manusia.

Lha kok medeni?

Tapi justru sejak saat itu saya jadikan ayat itu sebagai sebuah misi. Saya bisa menyelamatkan orang lain dengan menahan diri untuk tidak menjadi penyebar virus. Tapi di sisi lain ada kemungkinan saya bisa saja tanpa sengaja menyebabkan kematian orang lain jika saya menjadi penyebar virus. Bagimana caranya supaya saya tidak ketularan dan tidak menulari? Itu misi utama saya 2020 ini, yang mungkin akan diperpanjang hingga 2021 nih kayaknya. Hiks!

Dari situ akhirnya saya menemukan jawaban mengapa saya mesti meninggalkan kebiasaan saya kumpal-kumpul, berada di kerumunan, dan lain-lain sementara ini, selama pandemi masih berlangsung. Demi niat saya yang mungkin terdengar ngayawara itu.

Tapi ternyata kekuatan niat memang besar. Alhamdulillah selama 9 bulan ini saya masih tetap konsisten dan hanya ke luar rumah kalau benar-benar ada urusan penting. Kalau dihitung-hitung, saya hanya keluar rumah 8x selama 9 bulan ini. Mumpung bisa, mumpung mampu, jadi kenapa tidak?

Salah satu hari ketika saya keluar rumah selama pandemi ini untuk ambil sembako gratisan.
Kemudian mampir sebentar ke taman bermain yang sepi.

Tentu tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama dengan saya, karena tuntutan pekerjaan ataupun punya kepentingan mendesak lainnya. Tapi setidaknya dengan saya di rumah saja, saya bisa mengurangi kerumunan di luar sana sehingga orang-orang yang masih harus bekerja di luar rumah bisa terhindar dari ketemu lebih banyak orang. Setidaknya saya tidak nambah-nambahi kepadatan manusia hanya karena saya pingin ke luar rumah aja tanpa keperluan yang penting.

Sekali lagi, saya nggak tahu sih kalau cuma satu orang kayak saya aja yang berpikiran seperti ini apakah ada pengaruhnya buat penanganan pandemi. Tapi saya rasa kalau ada lebih banyak orang yang berpikiran sama, akan ada bedanya.

Menerima Kenyataan dan Move On

Apakah mudah menjalankan niat saya untuk tidak ketularan dan tidak menulari? Tentu tidak. HAHAHA

Karena itu, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana caranya agar saya bisa tetap konsisten? Setelah saya cari-cari jawabannya, ternyata jawabannya adalah menerima kenyataan dan move on.

Menerima kenyataan dan move on  bukan hal baru buat saya. Bahkan kalau kata teman dekat saya sih saya adalah manusia dengan kecepatan move on secepat cahaya. Hari ini nangis-nangis sampai sesak napas karena patah hati, besoknya udah move on dan siap cari lagi. Eh?!! HAHAHA

Enggak sih. Sebenarnya itu semua karena pengalaman bertahun-tahun menerima ejekan dan perundungan (bully) dari teman main dulu. Jadi saya sudah terlatih untuk menerima keadaan bahwa selalu ada orang nyebelin dalam hidup ini, jadi ya udah sih. Besok tidak usah main sama orang itu lagi. Nggak temenan sama mereka nggak rugi. Gitu sih.  

Jadi ya patah hati pun reaksi saya juga begitu. Nggak sama orang itu ya udah, nggak rugi. HAHAHAA

Lha tapi terus apa hubungannya patah hati sama pandemi? Nggak ada hahahaa!!

Tapi ada hubungannya menerima kenyataan dan move on. Pertama yang saya lakukan adalah menerima kenyataan bahwa dunia sudah berubah. Pandemi ini membuat segala hal berubah. Bukan hal yang mengejutkan sih sebenarnya. Semua orang kayaknya pernah dengar bahwa tidak ada hal yang konstan selain perubahan itu sendiri.

Pandemi ini telah mengubah dunia kita dengan drastis dan cepat. Tanpa ada peringatan sebelumnya terus tiba-tiba makbedunduk semua-semua jadi online, kangen sama teman mesti ditahan, yang dulunya kemproh alias jorok sekarang mau tidak mau jadi rajin cuci tangan dll.

Saya mesti menerima kenyataan bahwa hidup tidak sama lagi dan saya sudah ikhlaskan bahwa hidup seperti 2019 belum tentu akan kembali lagi. Jadi ya sudah, ikhlas. Kemudian move on.

Menurut pengamatan sok tahu saya, ada banyak orang yang masih belum mematuhi protokol kesehatan dan masih tetap kumpal-kumpul dan melalukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan orang lain salah satunya karena belum menerima kalau dunia sudah berubah, dan kalau kita harus berubah, setidaknya sampai pandemi berakhir.

Mereka juga belum move on. Masih berpikir dunia masih sama seperti tahun 2019. Masih enggan beranjak dari kenyamanan yang diberikan tahun lalu dan belum mau mengakui bahwa apa yang dilakukan itu membahayakan dirinya dan orang lain.

Nah tapi, kepada mereka yang demikian, saya juga tidak punya hal melarang. Karena hidup itu pilihan. Saya memilih untuk menerima kenyataan dan move on, orang lain sih silakan aja mau bagaimana. Prinsip hidup orang beda-beda.

Kalau saya sih mengamini pernyataan di bawah ini:

Beradaptasi atau mati. Berubah atau punah. *

(*kurang tahu siapa yang pertama kali mengeluarkan pernyataan ini. Tapi siapapun itu, njenengan pancen joss!)

Sendiri Tapi Tidak Sepi

Percayalah saudara-saudariku sekalian, menerima keadaan dan move on seperti yang saya bicarakan di atas bukan perkara mudah. Saya juga mengalaminya kok.

Selama pandemi ini saya mengalami 3x burnout alias rasa perasaan lelah secara fisik dan mental yang bahkan membuat diri saya berpikir kalau saya ini payah sekali.

Sampai pada suatu titik, saya semacam mengalami mental breakdown. Saya kehilangan minat bekerja, minat melakukan hal-hal yang saya sukai sebelumnya, saya malas sekali membaca dan menulis (ini padahal hobi saya bahkan sebelum bisa memasak!) dan parahnya saya kayaknya sempat kehilangan minat untuk melanjutkan hidup.

Untung teman karantina saya, tentu Pak Jay maksudnya, langsung tanggap darurat ketika menemukan diri saya gampang nangis tanpa sebab dan klumbrak-klumbruk tanpa niat.

Saya dan Pak Jay mencoba mengurai benang kusut di kepala saya yang sampai membuat saya stress dan sampai mengalami mental breakdown. Satu per satu masalah kami cari solusinya dan rasanya cukup meringankan beban saya.

Nah selain itu saya juga coba menghubungi teman-teman saya yang ternyata juga mengalami hal-hal yang tidak jauh beda. Kami ngobrol banyak hal lewat chat WA maupun IG dll. Bahkan sekadar ghibah 1 jam bersama teman ikrib saya sudah cukup membuat saya ngakak sampai lupa kalau kemarin stress. HAHAHA

Ternyata meskipun selama pandemi ini kita jarang ketemu orang lain, tapi menjaga hubungan dengan kawan meski cuma mengandalkan internet bisa jadi salah satu solusi meringankan stress yang timbul selama pandemi ini.

Jadi kalau tiba-tiba ada temanmu yang menghubungi dan mengajak ngobrol tidak jelas sekalipun, tanggapi aja ya. Siapa tahu kita tanpa sengaja telah membantu teman kita memperingan beban jiwanya.

Berserah

Selain mencoba mendapatkan penghiburan dan penguatan dari teman-teman, saya juga mencari kedamaian dan pertolongan dari Sang Maha Pemberi Damai dan Pertolongan.

Saya melakukan ikhtiar (usaha) sebisa mungkin, tapi akhirnya ya hasilnya saya serahkan pada Gusti Allah.

Sekarang ini doa saya sepertinya lebih panjang daripada biasanya. Salah satunya adalah doa supaya saya diberikan kemudahan untuk menyelesaikan urusan-urusan saya, termasuk urusan pekerjaan yang kadang bikin tidak bisa tidur semalaman. Hehehe

Alhamdulillah, satu demi satu urusan teratasi dan sedikit demi sedikit pekerjaan saya selesaikan dengan baik.

Sebenarnya ya tidak harus dalam keadaan sulit dulu baru berdoa sih, tapi setidaknya dalam keadaan sesulit apapun kita masih punya harapan lewat doa.

Adaptasi dan Inovasi

Setelah hampir 9 bulan 10 hari (ini kalau hamil nih udah melahirkan kali ya? Hahaha) berusaha beradaptasi dengan keadaan pandemi ini, melewati segala proses menerima kenyataan, move on, menghadapi cobaan berupa stress yang sampai menyebabkan mental breakdown, saya banyak belajar dari kejadian-kejadian dan pengalaman yang saya alami.

Di awal pandemi, saya dan Pak Jay cukup syok dengan kenyataan bahwa pentasnya Pak Jay dibatalkan. Ini efeknya bukan cuma tidak pentas ya, tapi tidak bayaran juga. HAHAHA

Tapi ternyata Pak Jay bisa beradaptasi di bulan-bulan berikutnya dengan pentas lagi secara online dan tentu bayaran lagi (penting ini!). HAHAHA

Pak Jay pentas dari rumah. Featuring keranjang cucian di belakangnya. Tapi tenang, tidak kelihatan kok di layar pemirsa. HAHAHA!

Selain itu bahkan Pak Jay sudah melewati proses adaptasi dan menjalankan inovasi. Salah satunya dengan menginisiasi sebuah festival online berjudul Festival Musik dalam Layar, yang melibatkan belasan musisi berbakat Indonesia. Semua dilakukan secara online. Tayangnya dari Jakarta, ngurusinnya dari Minnesota, Jogja, dan Pontianak, produksinya dari Sumatera hingga Ambon dan Papua, dan MC-nya duduk manis santai dari Jogja.

Saya jadi berpikir apa yang bisa saya lakukan ya? Teman-teman saya banyak yang jadi punya hobi baru seperti menggambar, menjahit, bercocok tanam, dll. Saya jadi kepikiran mungkin perlu juga mencoba hobi baru.

Tapi nanti kalau malah nambah stress bagaimana? Sepertinya saya harus agak berhati-hati nih jangan-jangan nyobain sesuatu hal yang baru malah jadi mumet karena secara mental masih rapuh. #halah

Back to Basic

Akhirnya saya memutuskan untuk back to basic alias kembali ke dasar saja. Selama pandemi mungkin orang-orang banyak yang belajar hal baru atau menggeluti hobi baru. Bagaimana kalau saya belajar lagi hal yang sudah saya kuasai dan menggeluti hobi lama? Semacam mengasah kembali kemampuan yang mungkin sempat tumpul.

Bukankah pisau perlu diasah agar bisa memotong lebih efisien?

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali belajar menulis. Saya meminjam sekitar 10 buku dari perpustakaan kampusnya Pak Jay, dan dikirimkan bukunya ke saya lewat pos. Semua buku tentang menulis cerita. Aslinya nih ya, hampir semua yang ada di dalam buku tersebut saya sudah tahu.

Tapi dengan membacanya kembali, saya jadi diingatkan hal-hal yang mungkin tanpa sadar saya lupakan.

Dua dari 10 buku yang saya pinjam dalam tahun ini. Semua tentang menulis cerita.

Saya juga kembali menulis cerita. Kali ini, sesuai dengan tema pandemi yang apa-apa jadi online saya membagikannya lewat sebuah platform online Karya Karsa. Di sana saya menulis sebuah novellet bergenre misteri tentang seorang mahasiswa Indonesia yang tersangkut kasus pembunuhan berantai, yang saya beri judul Pembunuhan di Atas Danau Beku.

Lama kelamaan saya mulai menikmati kegiatan “baru” saya ini. Ya mau dibilang baru ya enggak, mau dibilang lama ya baru sih, baru pertama kali saya mencoba menulis di platform daring seperti Karya Karsa.

Lumayan juga sih, sedikit demi sedikit ada juga yang mendukung tulisan saya di situ. Ada yang belum? Jangan malu-malu lah…Langsung cuss klik di sini:   https://karyakarsa.com/terryperdanawati HAHAHA!

Bagaimana Selanjutnya?

Belajar dari 9 bulan 10 hari pandemi ini mempengaruhi hidup saya, sepertinya jawaban dari pertanyaan, “bagaimana selanjutnya?” mau tidak mau adalah TETAP BERTAHAN.

Ya mau bagaimana lagi kan? Memangnya ada pilihan lain?

Tapi mungkin tidak hanya sekadar bertahan hidup agar tetap waras jiwa dan raga, saya juga ingin mempertahankan apa yang sudah sempat saya capai selama 9 bulan lebih ini. Saya sepertinya akan tetap melanjutkan menulis di platform daring yang ada, bukan cuma satu saja, dan semoga nanti juga nambah di tempat lain juga. Apakah nanti ini akhirnya akan jadi salah satu profesi utama saya? Ya mungkin saja ya? Hehehe

Yang pasti sih Insyaallah saya siap menghadapi 2021 dengan segala kemungkinannya nanti. Apakah masih akan sama saja dengan 2020 atau berbeda ya kita lihat aja nanti ya.

Semoga pengalaman dan pelajaran selama 2020 ini bisa membuat kita lebih baik di 2021 dan lebih siap menghadapi segala kemungkinan perubahan. Tetap semangat!

Selamat menyongsong tahun baru yang akan segera datang dengan belajar dari tahun yang akan segera kita tinggalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s