5 Pandangan Saya tentang Amerika yang Berubah Sejak Tinggal di Minnesota

Amerika Serikat bukan lah negara yang cukup asing buat saya. Empat sks kuliah Budaya dan Sastra Amerika di S1 dan sekian puluh SKS di kuliah S2 Pengkajian Amerika membuat saya punya cukup informasi mengenai Amerika Serikat sebelum saya benar-benar menginjakkan kaki di sini.

Tapi, baru lima bulan lebih sedikit saya dan PakJay tinggal di Minnesota, salah satu negara bagian Amerika Serikat yang mepet ke Kanada, sudah ada beberapa hal yang mengubah pandangan saya terhadap Amerika dan yang terkait dengannya.

  1. Islamophobia tidak selalu laku di seluruh penjuru Amerika

Sering baca berita ada Muslim atau orang Arab yang dideskriminasikan karena mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Arab? Saya pernah sih mengalaminya sekali di bandara Chicago. Waktu itu saya bersin dan otomatis langsung bilang, “Alhamdulilah”. Kemudian ada ibu-ibu memandang tajam ke saya. Setajam silet. Saya sih males nanggepi tatapannya. Kalau dia bilang sesuatu, saya baru akan menjelaskan bahwa apa yang saya lakukan itu ya sama aja keleus sama orang bule yang bilang, “bless you” kalau dengar orang bersin.

Tidak bisa dipungkiri bahwa di daerah-daerah tertentu Islamophobia dan rasisme memang masih jadi menu sehari-hari masyarakat negara ini. Tapi pengalaman itu sama sekali tidak saya alami di Minnesota. Bahkan ni ya, di tempat umum, kami sesama muslim bisa saling menyapa, “Assalamualaikum” dan mengucapkan Insya Allah, Alhamdulilah, dan sebagainya di tempat umum dengan volume suara normal orang ngobrol tanpa mendapatkan pandangan setajam silet atau reaksi yang seheboh aksinya pendukung capres/cagub di Indonesia.

Suatu hari, waktu kami turun dari bus dan mengucapkan terima kasih kepada sopir busnya, dia bilang, “Barakallah. Have a good night, brother and sister. Assalamualaikum”. Dan itu ya nggak bikin penumpangnya lalu ketakuan dan telepon 911 kok. Tenin!

Bulan September lalu ada kasus penusukan di salah satu mall di St. Cloud, kota yang terletak sekitar 1 jam dari tempat kami tinggal, masih di wilayah negara bagian Minnesota. Penusukan dilakukan oleh satu orang yang katanya terkait dengan kelompok ekstrimis tertentu, dan katanya sebelum melakukan aksi, dia mengucapkan kata-kata yang mengasosiasikan bahwa dia seorang Muslim. Banyak komentar heboh di media sosial, dan bahkan salah satu pendukung capres tertentu (you know what I mean) bikin tagline, “Make Minnesota Safe Again”. Ba-ha-ha-ha!

Tapi etapi…setelah saya amati, komentar-komentar hebohnya itu dari orang di luar Minnesota. Komentar orang-orang Minnesota sendiri tidak begitu heboh. Mereka tetap mengucapkan keprihatinan atas kejadian tersebut, tapi menganggapnya sebagai kejadian kriminal, tidak kemudian mengkait-kaitkan dengan terorisme dan mendiskreditkan orang Islam.

Jadi ya kesimpulan saya adalah jualan Islamophobia tidak selalu laku di seluruh penjuru negara Amerika Serikat. Setidaknya di Minnesota sini, Islamophobia tidak terlalu laku.

  1. Amerika Rasa Jogja

Individualisme adalah salah satu falsafah hidup orang Amerika. Buat yang belum tahu, yang dimaksud individualisme itu tidak sama dengan egoisme ya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang dimaksud tentang American Individualism, teman-teman bisa membacanya dengan klik di sini.

Saya dulu pikir individualisme ini, walaupun beda dari egoisme, akan tetap membuat orang tidak terlalu ramah dan hangat dalam bergaul. Ya ternyata tidak juga ya. Di Minnesota ini orangnya ramah-ramah. Kadang-kadang saling berbicara dengan orang asing walaupun hanya ngomongin apalah embuh gitu semacam bus yang ganti arah (detour) gara-gara ada acara di tengah kota, atau cuaca yang tiba-tiba dingin tiba-tiba panas lagi.

Saya bahkan pernah bilang ke PakJay, “ini Amerika kok rasanya kayak Jogja ya?”. Tentu saja minus angkringan. Huaaaa. Kemudian kangen Jogja…

Tapi memang orang sini baik-baik sih. Kami pernah hujan-hujan tersesat di kampus St. Thomas ketika mau pentas gamelan dan tari. Lalu ada salah satu mahasiswa (bukan mahasiswa St. Thomas, dia mahasiswa UMN) yang tinggal di sekitar situ mengantarkan kami sampai lokasi. Itu jalan 20 menitan lho. Dan hujan. Dan nggak payungan. Dan lupa nggak kenalan. Duh!

  1. Negara ini nggak kaya-kaya amat ternyata

Sebenarnya tidak salah-salah amat kalau kebanyakan dari kita akan menganggap Amerika itu negara kaya. Jika dilihat dari pembangunan dan kekuatan nilai tukar mata uangnya, memang ya terlihat kaya deh negara ini. Walaupun masih merasakan dampak resesi ekonomi sejak beberapa tahun silam, tapi dari luar Amerika Serikat terlihat sebagai negara yang kaya-raya makmur, apalah-apalah gitu.

Tapi sampai di sini….mak badalah….di perjalanan dari bandara saja saya sudah melihat beberapa orang tuna wisma yang di jalan-jalan membawa papan bertuliskan, “work for food” dan lain sebagainya. Selain itu juga hampir tiap hari kami bertemu orang yang meminta-minta di area stasiun atau di tempat umum. Kalau sudah menjelang malam, akan terlihat beberapa orang yang tidur di emperan toko. Pemandangan itu begitu menyedihkan buat saya. Bagaimana tidak, baru di musim dingin awal saja sudah minus -9 derajat, bagaimana di puncak musim dingin nanti? Gimana kalau polar vortex datang? Kasihan kan?

Sebenarnya, kalau tidak salah sih di St. Paul ada tempat penampungan tuna wisma, tetapi mungkin tidak bisa menampung semua yang membutuhkan tempat tinggal.

Selain masalah tuna wisma, orang-orang di Amerika juga punya masalah terkait dengan asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan di Amerika sangat mahal sehingga banyak orang (dan jumlahnya jutaan jiwa dalam satu negara bagiannya) tidak mampu membayar asuransi. Apa akibatnya? Tanpa asuransi, mereka harus bayar mahal kalau sakit. Ya semahal biaya asuransinya juga sih sebenarnya. Biaya pengobatan di sini mahal pakai banget dan banyak orang tidak mampu membayarnya. Orang miskin makin susah kalau sakit.

Buat gambaran saja, saya dan PakJay pernah masuk rumah sakit karena keracunan makanan. Biaya dokternya saja per orang kena $180, itu baru biaya dokter ya… belum tagihan rumah sakit. Padahal kami cuma nebeng tidur dan dikasih obat kecil aja gitu. Jadi kebayang kan bagaimana orang miskin kalau sakit dan sakitnya cukup berat? Kasihan.

Begitu juga di bidang pendidikan. Jangan dipikir semua orang di sini bisa kuliah. Ada banyak yang hanya tamat SMA karena tidak ada biaya. Yang bisa kuliah pun tidak semuanya bisa kuliah dengan hati lega karena banyak yang kuliah dengan biaya hutang (student loan) yang nilainya cukup besar. Pernah dengar dari orang lokal di sini, dia lulus S1 dan langsung bekerja. Baru bisa melunasi student loan setelah 15 tahun bekerja. Jangankan mikir nyicil rumah, nyicil utang aja sampai megap-megap dia. Selain itu, tidak sedikit juga yang gagal menyelesaikan kuliah karena sesuatu dan lain hal, tapi tetap saja harus mencicil student loan yang sudah terlanjur dipakai kuliah. Melas tenan ye kan?

Jadi sebenarnya ya gitu, negara ini nggak kaya-kaya amat. Kalaupun McD atau KFC rame di sini, bukan berarti masyarakat di sini banyak yang kaya, tapi karena McD atau KFC adalah murah-meriah setara dengan warteg, agak beda ya dengan McD atau KFC di Indonesia?

Intinya, negara ini nggak kaya-kaya amat. Atau……orang yang kaya kayanya kebangetan tapi yang miskin juga miskinnya kebangetan? Masalah distribusi kemakmuran?

Ah entahlah…. yang pasti sih kita nggak perlu silau dengan Amerika Serikat. Negara ini nggak kaya-kaya amat.

  1. Kelakukan orang di masa kampanye ya sama kayak di Indonesia

Woiya! Apalagi masa kampanye presiden 2016. Njelehi, njijiki, dan nyebahi. Kelakuan para pendukung calon presidennya setara dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mereka tebar fitnah, mencaci-maki, dan lain sebagainya. Ini tidak hanya dilakukan oleh pendukung salah satu kubu saja. Semua kubu begitu. Mirip kan? Hohohoho

Bedanya, di Indonesia masih mending. Meskipun pendukungnya mulutnya pedas pakai karet dua, tapi calon yang didukung masih agak jaim nggak terlalu menyerang dengan terbuka. Tapi di sini, serangan terbuka langsung dari calonnya sendiri cukup njelehi. Kadang sampai level nyebahi. Tapi ya gimana lagi, freedom of speech dijunjung tinggi di sini. Sak uni-unimu gitu deh.

Oke. Dalam kasus ini Indonesia masih agak lebih baik sedikit. Iya. Sedikit.

  1. Apresiasinya Juara!

Masalah apresiasi, di Amerika ini juara. Sesungguhnya banyak hal atau karya biasa aja di sini. Saya bilang biasa aja karena di Indonesia saya pernah lihat atau pernah tahu karya yang seperti itu atau yang lebih menarik daripada itu. Tapi orang Amerika memberikan apresiasi yang baik pada setiap karya atau setiap usaha. Jadi jangan kaget kalau orang sini sering bilang, “that’s interesting”, “good job”, atau kalau pun akan memberikan kritik maka mereka akan bilang, “it’s good but…….” atau, “you did it right but it would be better if…..”.

Agak beda ya dari orang di Indonesia yang ada hal bagus aja kadang dikatain, “halah…cuma kayak gitu aja”, atau ketika ada orang melakukan sesuatu lalu dikatain, “kayak gitu aja aku juga bisa” padahal dia tidak melakukan apa-apa.

Efek dari apresiasi yang tinggi di sini menurut saya bagus karena membuat orang termotivasi dan merasa dihargai, bukan malah menjadi kendor karena dinyinyiri. Kalaupun ada kritik, ujungnya adalah saran untuk perbaikan, bukan cuma waton suloyo. Sehingga orang-orang akan termotivasi untuk berbuat atau membuat sesuatu yang lebih baik lagi dan akan membangun lingkungan yang lebih positif.

Pada akhirnya, ada beberapa hal yang saya pelajari dari tinggal di Amerika, khususnya Minnesota. Yang baik bisa ditiru, yang buruk bisa dihindari, yang ganteng bisa dikentjani asal statusnya patjar atau suami. #halah

Note: The pic used in this article is taken from http://mnlyme.org/

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s