5 Pertanyaan Tentang Menjadi Freelancer Antarnegara

Setelah membaca cerita saya tentang menjadi buruh ketik partikelir, beberapa teman bertanya seputar pekerjaan saya. Berhubung yang tanya lumayan banyak, jadi sekalian saja saya tuliskan jawaban-jawaban saya di sini. Setidaknya ada 5 pertanyaan yang sering dilontarkan seperti berikut ini:

  1. Mana yang lebih enak? Kerja kantoran atau jadi freelancer?

Ini pertanyaan sensitif banget ye kan? Maka saya sarankan baca jawabannya hati-hati sambil ngeteh atau ngopi biar santai.

Saya pernah kerja kantoran baik yang 8 jam sehari, kerja kantoran yang 4 jam sehari, maupun kerja yang jam kerjanya ditentukan oleh seberapa banyak kelas yang saya ajar, dan bahkan kerja yang dadakan, kayak tahu bulat (hari ini dikirimi brief, kerjaannya besok, dua hari kemudian gajian, lalu enggak tahu kerjaannya akan kapan lagi datang). Semuanya enak!

Karena semuanya enak, maka saya tidak bisa memilih mana yang lebih enak. Yang bisa saya bilang adalah mana yang lebih cocok untuk saya. Waktu saya baru lulus kuliah S1, tiada masalah dengan kerja kantoran 8 jam sehari atau seharian penuh jadwal mengajar, tapi ketika saya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah, maka saya tidak bisa lagi bekerja penuh seperti sebelumnya. Jadi ya ambil kerjaan 4 jam sehari ditambah beberapa kerjaan freelance.

Setelah menikah dengan pria yang domisilinya tidak bisa diperkirakan dengan mudah karena bisa tiba-tiba pindah, ditambah lagi beliaunya butuh bantuan saya untuk pekerjaannya, jadi menjadi freelancer sepenuhnya adalah pilihan yang paling tepat untuk saya saat ini. Iya, saat ini. Entah kalau suatu saat keadaan berubah dan pilihan pekerjaan saya bisa juga berubah.

Semua kerjaan sebenarnya enak jika dinikmati, dan jadi nyebelin kalau sering dikeluhkan. Jadi masalahnya sesungguhnya adalah bukan mana yang lebih enak, tapi mana yang lebih cocok: cocok dengan keadaan hidup, keuangan, dll. Tiap orang bisa sama, bisa juga berbeda.

Buat saya pribadi sih, nggak masalah mau punya penghasilan tetap atau tidak tetap, yang penting itu tetap berpenghasilan. Ye kan?

  1. Gajiannya terus gimana? Pakai mata uang apa?

Dulu saya pernah kerja untuk sebuah perusahaan di negara tetangga. Dibayarnya dalam dolar, dan ditransfer. Kena potongan lumayan banyak bahahaha. Beberapa teman saya memilih untuk pakai pembayaran dengan paypal atau yang lainnya. Berasa eike tradisional banget ye kan?

Kalau sekarang sih, ya gajiannya pakai rupiah karena para masboss dua-duanya di Jakarta. Ditransfernya ke rekening di Indonesia, biar nggak kena potong biaya transfer internasional. Sengaja nggak buat apa-apa, buat cadangan kalau yang di sini kurang. Ya namanya juga merantau di negara yang biaya asuransi kesehatannya mahal pakai banget, jadi harus punya dana cadangan.

  1. Suka dukanya kerja dengan bos atau klien beda zona waktu apa aja?

Sebenarnya ya sama saja, setiap pekerjaan pasti ada dukanya dan banyak sukanya (apalagi kalau banyak transferannya) hahahaa

Tapi dengan tantangan perbedaan waktu yang cukup tajam, sekarang bedanya 13 jam setelah Day Light Saving Time berakhir, ada untungnya juga. Kerjaan saya dari salah satu masboss saya tidak berhubungan dengan orang lain. Jadi ya urusannya sama seberapa cepat dan tepat saya mengerjakan kerjaan saya. Enaknya itu ya pas masboss tidur, saya kerja. Besok paginya dia bangun tidur, saya sudah bisa mengirimkan hasil pekerjaan. Kan seneng ya yang jadi bosnya? 😛

Tapi, pekerjaan saya lainnya membutuhkan banyak interaksi dengan orang lain. Dengan perbedaan waktu tersebut, kadang saya masih harus menerima pesan jam 2 pagi atau merasa bersalah ketika mengirimkan pesan kepada orang yang akan menerimanya tengah malam. Atau pas kerjaannya butuh kerja tim. Agak susah juga dalam menyesuaikan jam kerja (…dan jam tidur). Tapi ya namanya kerja kan pasti ada tantangannya ye kan, biar berasa nikmatnya pas gajian. #halah

          4. Jadi sebenarnya kerjaan saya itu ngapain?

Gampangnya ya itu tadi, saya ini buruh ketik partikelir. Salah satu pekerjaan saya terkait dengan dokumen-dokumen sensitif, sesensitif hati saya. Untuk pekerjaan yang satu ini saya tidak bisa jelaskan lebih lanjut ya.

Pekerjaan saya satunya masih terkait dengan media sosial. Saya kerja buat salah satu kantor agensi di Jakarta. Kerjaannya seputar copywriting, bikin slide buat presentasi, dan kontak-kontakan dengan orang.

Sedangkan pekerjaan sampingan saya (anggap saja ini hobi) adalah nulis-nulis kayak gini, atau nulis yang agak lebih akademis,  paper 10 halaman misalnya. Oya, sementara ini saya juga bantuin anaknya teman untuk belajar baca Al-Quran. Jadi ya anggap saja semacam guru TPA ye kan. Buat yang terakhir ini sesungguhnya tidak saya anggap sebagai pekerjaan, tapi lebih sebagai cara kembali belajar membaca Al-Quran. Soalnya kan kalau kita mengajar, berarti mesti belajar lagi kan ya? Kadang kita berhenti belajar ketika merasa sudah bisa, dan dengan mengajar, mau nggak mau kita akan belajar lagi dari awal dan mungkin akan menemukan hal-hal yang selama ini luput dari perhatian kita.

        5. Duitnya cukup nggak buat hidup?

Saya selalu ingat pesan bapak saya, “berapapun uang yang kamu punya, itu bisa cukup kalau kamu merasa cukup, dan akan selalu kurang kalau kamu merasa kurang”. Jadi ya berapapun uang yang saya hasilkan ya cukup-cukup aja sih.

Soalnya juga, saya dan PakJay sepakat bahwa dalam keluarga kecil kami, beliau adalah tulang punggung dan saya adalah tulang rusuk. Sehingga, tugas utama saya memang bukan untuk menghasilkan uang. Kata suami saya, tugas utama saya adalah untuk jadi bahagia, biar nggak tantrum, dan biar nggak cranky bahahaha.

Sementara, segini dulu jawaban-jawaban saya atas rasa penasaran beberapa teman saya. Kalau ada pertanyaan lagi, boleh lho disampaikan di kolom komentar di bawah ini 😀

Note: Featured image used in this article is taken from: Freepik.com (Business vector designed by Onlyyouqj)

 

2 Comments Add yours

  1. banumelody says:

    Pertanyaan di atas juga pernah diajukan oleh orang-orang disekitar saya waktu itu, selain hujatan dan nyinyiran tentang studi saya. hadeh..

    Menyenangkan memang, bisa kerja remote, kerja di mana aja, kapanpun kita yang mengaturnya. Tapi nda sepenuhnya seperti kelihatannya sih ya. wahihi..

    Haduh, takut curhat di kolom komentar blog orang.. 😐

    Like

    1. @tey_saja says:

      Tapi aku selalu mengerti pilihan pekerjaanmu, Mil. Aku hanya kadang tidak mengerti pilihan jodohmu. Kalau nggak salah pilih ya yang dipilih gak mau 😅😅😅

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s