7 Trik Lancar Bekerja Dari Rumah

Halo teman-teman, bagaimana kabar kerja dari rumahnya? Apa ada kesulitan? Hehehe

Berhubung ada teman saya yang belum terbiasa kerja dari rumah dan minta tips ke saya yang secara resminya sudah 5 tahun ini kerja dari rumah, jadi sekalian saya tuliskan di sini ya…

Tips ini lebih efektif untuk yang belum berumah tangga atau pun yang sudah berumah tangga tapi belum/tidak punya anak. Berhubung kalau ada anak di rumah sepertinya agak lebih rumit ya jadinya? Hehehe

Saya sudah beberapa kali jadi babysitter sambil tetap kerja, tapi anaknya orang dengan anak sendiri kan beda ya? Kalau anak orang lain kan masih ada segan-segannya gitu dan tidak terlalu ingin selalu diperhatikan, jadi buat yang kerja di rumah dan sekaligus membersamai putra-putrinya di rumah, bisa disesuaikan dengan keadaan masing-masing ya…

  1. Luruskan Niat

Yang pertama dan paling utama adalah luruskan niatnya. Apa-apa itu dimulai dari niat. Serius!

Maksudnya bagaimana? Maksudnya, luruskan niatnya buat bekerja dari rumah. Bukan bekerja dari café atau dari tempat wisata.

Di masa seperti ini ada baiknya memanfaatkan nikmat atau bisa juga disebut privilege bisa kerja dari rumah untuk benar-benar kerja dari rumah. Supaya mengurangi juga risiko ketularan dan juga menularkan covid-19 ini.

Selain itu, meluruskan niat juga berarti beneran niat buat kerja. Jangan niatnya rebahan aja. Eh mumpung bosnya tidak memantau, jadi malas-malasan aja… Bukan gitu ya!!

 

  1. Buat Jadwal dan Target

Untuk memudahkan melakukan kerja dari rumah, kita perlu melakukan penjadwalan dan menentukan target.

Buat daftar apa saja yang perlu teman-teman lakukan dalam satu hari. Apa saja target yang harus dicapai dalam satu minggu?

plush-design-studio-94Ld_MtIUf0-unsplash
Photo by Plush Design Studio on Unsplash

Kira-kira untuk melakukan pekerjaan harian tersebut dan mencapai target dalam satu minggu perlu bekerja berapa jam per hari? Apakah butuh stand by di jam tertentu misalnya untuk rapat atau jika pekerjaannya mengajar online apakah ada jam tertentu untuk mengajar?

Jika sudah ketemu maka teman-teman bisa menentukan berapa jam per hari bekerja dan di jam berapa.

Contohnya kalau saya, setiap hari saya butuh sekitar 6 jam kerja. Saya bagi dua sesi: siang dan malam, masing-masing 3 jam. Karena dua pekerjaan saya kantornya di Jakarta, jadi pekerjaan yang tidak perlu berurusan dengan orang lain, saya kerjakan siang hari waktu Minnesota (malam waktu WIB), sedangkan pekerjaan yang harus berhubungan dengan orang lain akan saya kerjakan malam hari waktu Minnesota (siang waktu Indonesia).

Untuk hari-hari tertentu atau masa-masa tertentu saya kadang juga begadang nglembur kerjaan. Jika keadaannya demikian, maka jam kerjanya akan saya sesuaikan lagi.

Jika di rumah berdua dengan pasangan, ada baiknya jam kerjanya diselaraskan sehingga kalau bisa dua-duanya pas sama-sama kerja biar tidak saling gangguin. Apalagi kalau pasangannya kayak saya yang rese, kalau saya nganggur dan Pak Jay kerja nanti saya gangguin dia hehehe.

Kalau tinggal di rumah bersama anggota keluarga yang lain, sampaikan jadwal yang sudah kita susun. Jam berapa saja kita menjadwalkan diri untuk bekerja, jadi jangan diganggu dulu. Ya biar kalau kita lagi serius mantengin kerjaan nggak disuruh ibu beli terasi gitu deh hehehe.

 

  1. Jaga Ritme

Kalau membuat jadwal dan target sudah dilakukan, langkah selanjutnya yang bisa teman-teman lakukan adalah menjaga ritme. Ingat, kerja di rumah itu ya kerja, cuma lokasinya saja yang dipindah ke rumah.

Sehingga sama saja dengan di kantor, butuh menjaga ritme dan jangan mudah tergoda. Soalnya kalau di rumah itu godaannya lebih banyak. Godaan pingin rebahan aja, godaan untuk lebih banyak masukin makanan ke mulut daripada ngerjain kerjaan, hingga godaan pingin main game aja. Hehehe

Tetap harus konsisten. Tetap harus kerja dengan baik!

 

  1. Jangan Nyambi-nyambi

Salah satu godaan kerja dari rumah adalah godaan untuk nyambi-nyambi. Misalnya, sedang mengetik laporan tapi tergoda untuk nyambi masak. Kalau masaknya semacam masak air, merebus telur, atau masak nasi pakai rice cooker yang bisa ditinggal-tinggal gitu ya masih memungkinkan.

Tapi kalau bekerja sambil ngobrol di WA (kecuali kalau memang berkomunikasi via WA untuk urusan pekerjaan ya…). Sambil kerja malah mikir mau masak apa, sambil kerja nyambi hidupin TV, dll.

Nanti tidak efektif! Lebih baik fokus dulu menyelesaikan pekerjaan, baru setelah itu kalau sudah selesai bisa istirahat dan bisa melakukan kegiatan yang lain.

 

  1. Jadwalkan istirahat

Istiharat ini juga perlu dijadwalkan lho hehehe. Selain istirahat untuk masak atau makan, juga istirahat untuk minum dan ke toilet. Jangan ditahan-tahan kalau udah kebelet, nanti jadi penyakit. Tapi juga kalau habis dari toilet jangan meleng terus nonton TV kalau jadwalnya masih jam kerja dan kerjaan belum selesai.

Waktu yang sengaja kita sisihkan untuk istirahat ini juga bisa digunakan untuk sekadar ngemil. Percaya deh, kalau kita kerja sambil ngemil, nggak terasa ngemilnya banyak dan tidak terjaga. Tapi kalau ngemil cuma di saat istirahat yang memang kita alokasikan, porsinya akan lebih terjaga. Hehehe

clement-falize-9by3KrgIFJU-unsplash
Photo by Clément Falize on Unsplash

Saya sengaja memulai kerja setelah selesai masak dan makan siang, sehingga paginya saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan saya bisa masak dengan santai dan makan dengan santai sambil nonton film via Netflix bareng Pak Jay hehehe. Setelah itu saya akan istirahat untuk masak dan makan malam (sambil nonton film lagi) sebelum lanjut kerja malamnya.

Jadi buat saya, jadwal istirahat saya adalah di sela-sela jadwal kerja siang dan jadwal kerja malam. Jadwal istirahat ini silakan aja disesuaikan dengan keadaan masing-masing.

 

  1. Pilih Tempat dan Pose Terbaik

Tempat dan pose orang yang kerja di rumah bisa macam-macam tergantung pribadi masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah cari tempat yang buat kita nyaman (tidak banyak gangguan), dan bisa bekerja dengan pose yang baik dan tidak merusak postur tubuh.

Contohnya kalau di rumah saya, Pak Jay lebih suka kerja di meja di ruang makan sedangkan saya lebih suka kerja di atas tempat tidur. Meskipun demikian, saya sebisa mungkin bekerja tidak dengan rebahan, tapi tetap duduk dan bersandar di tembok, agar postur tubuh tidak bermasalah.

sincerely-media-TUiJe6bh2EA-unsplash
Photo by Sincerely Media on Unsplash

Bekerja dari atas tempat tidur tuh nyaman tapi berbahaya karena cobaan untuk rebahannya besar. Nah ini butuh mengingat poin nomor satu nih! Bulatkan tekad, luruskan niat! Baru boleh rebahan kalau memang kerjaan sudah selesai. Hehehe

 

  1. Evaluasi

Sama seperti seperti kita mulai kerja di tempat yang baru, bekerja di situasi yang baru juga kadang tidak selalu mulus kayak wajahnya artis K-Pop. Jadi butuh dievaluasi lagi. Setelah seminggu bekerja, coba dievaluasi apa yang bisa ditingkatkan dan apa yang bisa diperbaiki.

Kira-kira demikian tips dari saya ya teman-teman. Semoga bermanfaat. Tetap semangat kerja dari rumahnya dan mari kita doakan semoga pandemik covid-19 ini segera berakhir. Amin!!

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s