Rasa, Kenangan, dan Hal-hal yang Tidak Mudah Dijelaskan

Salah satu cita-cita saya adalah ingin seperti Eyang (ibunya Bapak). Ketika meninggal di usia 83 tahun, beliau sama sekali tidak pikun. Meskipun dua tahun mengalami stroke dan hanya tiduran di atas kasur saja, tapi Eyang tidak kesulitan mengingat apapun. Eyang juga tidak bingung dalam mengenali cucu-cucunya yang namanya banyak yang mirip itu: Terry, Henry, Renny, Budi, Destri, Esy, Eli, Rini, dll.

Tapi belum tentu cita-cita saya tercapai. Oleh karena itu, saya menulis. Supaya jika nanti ingatan saya tidak setajam ingatan Eyang, setidaknya saya mungkin bisa membaca kembali tulisan-tulisan saya atau meminta tolong orang lain untuk membacakannya supaya saya jadi ingat lagi.

Hari ini saya teringat beberapa hal yang penting dalam hidup saya dan ingin saya tuliskan sekaligus saya bagikan. Beberapa kenangan yang sebenarnya tidak mudah saya jelaskan karena belum tentu bisa dimengerti oleh orang lain.

Makanan Terenak

Makanan terenak yang pernah saya makan seumur hidup saya adalah sepiring nasi hangat dengan lauk mie goreng, telur dadar, oseng tempe, dan sambal terasi di rumah teman saya. Saya masih selalu bertanya-tanya mengapa makanan yang saya makan waktu itu rasanya enak sekali.

Padahal kalau dipikir-pikir, hampir semua emak-emak Indonesia yang hobi masak pasti bisa lah masak menu seperti itu ya? Saya pun bisa masak seperti itu juga. Masak yang lain pun saya bisa kok, boleh ditengok di unggahan-unggahan saya di Instagram. Tapi buktinya, sampai saat ini, saya masak hidangan yang sama persis pun belum bisa menyaingi kenangan betapa enaknya makanan yang saya makan saat itu.

Oseng tempe dan telur dadar buatan saya ini enak juga lho. Tapi entah kenapa masih belum bisa menyaingi rasa nikmat makanan yang sama yang saya makan sore itu. Sebuah misteri!

Apakah karena gratis dan tinggal makan tanpa perlu repot? Bisa jadi.

Tapi saya makan makanan gratis kan bukan sekali itu saja. Makan gratis di restoran mewah pun pernah. Ya gratis karena ditraktir orang, karena suguhan acara, atau dikasih gratis oleh pemilik restoran. Dari kue-kue kecil hingga menu utama yang kalau saya bayar sendiri belum tentu saya pesan meskipun enak banget. Takut bokek. HAHAHA

Tapi tetap saja belum bisa menyaingi kenikmatan makanan yang disajikan teman saya waktu itu. Mengapa?

Apakah karena suasananya ya? Kami makan dengan santai tanpa beban pikiran. Saya makan bersama teman saya, suaminya dan anak-anaknya. Apakah saya sangat menikmatinya karena saat itu saya sudah lama tidak makan bersama keluarga saya yang lengkap seperti itu ya? Sampai sekarang pun saya masih belum tahu jawabannya.

Jangan-jangan teman saya masak pakai bumbu rahasia? Micin super? Hahahaha

Hadiah Terbaik

Hadiah terbaik yang pernah saya terima adalah boneka plastik bermuka agak lecet dan bolong jempolnya. Waktu itu adik saya masih satu, jadi umur saya masih di bawah 10 tahun pastinya. Bapak pulang dari tempat kerjanya di sebuah pabrik di Jogja. Bapak membawa oleh-oleh satu boneka untuk saya dan sepuluh kelereng bocel-bocel untuk adik saya.

Sekilas info saja ya, adik saya waktu itu sudah punya satu toples wafer berisi kelereng warna-warni yang bagus-bagus dan utuh-utuh tidak bocel. Kenapa Bapak membelikan kelereng lagi dan bocel-bocel pula? Kenapa juga saya dibelikan boneka plastik tapi yang bolong jempolnya?

Kata Bapak, hari itu ada seorang laki-laki tua yang datang ke kantor Bapak dan menawarkan barang-barang bekas untuk dijual supaya bisa membelikan makan keluarganya. Jadi Bapak beli boneka plastik dan kelereng bocel-bocel itu.

Saya lupa sih persisnya bagaimana reaksi adik saya, tapi reaksi saya waktu itu saya merasa terenyuh gitu dan ada perasaan yang tidak mudah saya jelaskan. Boneka plastik itu saya simpan di kamar saya sampai akhirnya waktu kami pindahan rumah 8,5 tahun yang lalu, boneka itu entah hilang tercecer di mana.

Meskipun boneka tersebut sudah tidak jelas di mana keberadaannya, tapi bagi saya boneka itu hadiah terbaik yang pernah saya terima. Perasaan yang saya rasakan ketika menerima hadiah tersebut tidak pernah tergantikan oleh hadiah yang lain.

Walaupun 20++ tahun berlalu sejak saya dibelikan boneka plastik itu, Bapak saya pernah membelikan boneka yang lebih baru (bukan bekas), meski saya pernah dapat boneka yang lebih bagus ketika menang lomba, dan juga hadiah-hadiah lain yang mungkin lebih mahal, tapi boneka plastik yang bolong jempolnya itu hadiah terbaik yang pernah saya terima karena membuat perasaan saya sangat gembira bercampur haru.

Apakah saya merasa gembira karena tahu Bapak telah membantu orang lain dengan membeli barang-barang itu meskipun barangnya tidak baru dan tidak bagus? Saya kurang tahu juga..

Jalan-jalan Paling Menyenangkan

Meskipun di blog ini saya pernah menuliskan cerita jalan-jalan saya selama di Amerika, di Inggris, di Korea, tapi jalan-jalan paling menyenangkan buat saya adalah di Jogja, di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Sore itu Pak Jay, yang saat itu statusnya belum jadi suami saya, mengajak saya jalan-jalan ke Pulo Cemeti, sebuah reruntuhan bangunan tua di kompleks Tamansari. Di sana, selain kami juga banyak orang yang foto-foto dan menikmati Minggu sore yang cerah itu.

Pulo Cemeti (gambar diambil dari: idnwisata.com)

Saya dan Pak Jay sih hanya jalan-jalan keliling saja kemudian duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol tentang rencana kami untuk menguasai dunia sambil makan jagung rebus seharga dua ribuan. Ya namanya juga muda-mudi bokek Nusantara ya? Waktu itu duitnya hanya cukup buat kencan nongkrong seperti itu.

Tapi buat saya, itu jalan-jalan terbaik dalam hidup saya. Meskipun sekian tahun setelah itu saya dan Pak Jay jalan-jalan ke tempat lain yang lebih jauh dan jajan yang lebih meriah dibanding sekadar jagung rebus, tapi bagi saya jalan-jalan di Pulo Cemeti sore itu adalah jalan-jalan terbaik selama hidup saya. Mbuh kenapa. Saya bingung juga. Hahahaa

Benda Termahal

Benda termahal yang saya punya saat ini adalah satu renteng peniti seharga dua ribu rupiah. Dua ribu rupiah kok mahal? Oh jangan salah. Jangankan ditukar dengan uang $2,000, ditukar dengan dua ribu Bitcoin aja tidak akan saya berikan. Kenapa?

Satu renteng peniti tersebut adalah barang pemberian terakhir Bapak ketika kami terakhir bertemu bulan Oktober 2019. Bapak saya memang sering melakukan hal-hal kecil untuk anaknya termasuk memberi saya peniti setiap saya mau berangkat ke Amerika, dari pertama kali saya berangkat ke Amerika tahun 2016 hingga tiap kali saya mudik. Menurut Bapak, mungkin orang di Amerika tidak jualan peniti. Hehehe

Karena itu lah, hampir 5 tahun saya di Amerika, tidak sekalipun saya beli peniti. Peniti pemberian dari Bapak masih ada dan masih banyak. Tapi satu renteng peniti terakhir pemberian Bapak itu lah yang paling berharga.

Bukan harga dalam rupiahnya sih, tapi harga cinta dan kenangannya yang tak ternilai. #eaaa

Peniti seharga Rp 2.000, barang pemberian terakhir Bapak.

Sampai di sini ada yang sudah kasih label saya orang aneh atau melankolis, belum? HAHAHA

Tenang saja. Tidak masalah kok karena ya manusia beda-beda. Hal-hal yang membuat satu orang bahagia, belum tentu membuat orang yang lain bahagia juga. Satu hal yang meninggalkan kesan mendalam untuk satu hati, belum tentu berefek sama kepada hati yang lain.

Semua kenangan yang kamu simpan dan rasa yang hadir dalam hidupmu adalah valid. Tidak harus sama dengan orang lain. Tidak pula harus beda.

Semua rasa dan kenangan yang kamu simpan mungkin tidak mudah untuk dijelaskan kepada orang lain. Tapi setiap rasa dan kenangan itu yang membuat kamu menjadi kamu; yang menjadikan kamu sebagai manusia yang seperti apa.

Tidak perlu khawatir disebut lebay, karena menurutku semua orang lebay pada hal-hal yang berbeda. Tergantung pada persepsi, rasa, dan seberapa ekspresif seseorang.

Setiap orang berhak punya rasa, kenangan, dan hal-hal yang tidak mudah dijelaskan kepada orang lain. Begitu juga dengan kamu!

2 Comments Add yours

  1. Rakha says:

    Ah, ya. Pulo Cemeti memang artistik sekali.

    Like

Leave a Reply to Rakha Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s