Jalan-jalan di London: dari Kecopetan, Putri-putrian, hingga Rok yang Kembali Muat! :D

Akhir November hingga awal Desember lalu kami mengunjungi Inggris selama kurang lebih 13 hari di enam kota: London, Bristol, Bath, Leicester, Manchester, dan Liverpool.

Sengaja agak lama karena kalau hanya sebentar, rasanya rugi setelah proses pengajuan visa Inggris yang cukup mahal dan agak repot.

Untuk kali ini, saya cerita dulu jalan-jalan kami di London. Untuk kota-kota lainnya menyusul kemudian. Insyaallah!

Hari Pertama: Kecopetan

Yak! Anda tidak salah baca. HAHAHA

Belum ada dua jam dari sejak mendarat di bandara Heathrow London, saya sudah kecopetan di kereta bawah tanah, atau yang biasa di London disebut tube, saat perjalanan dari Paddington menuju Baker Street.

Untung banget paspor dan KTP saya ada di Pak Jay, sehingga mengurangi kekhawatiran saya. Meskipun ya ID card Minnesota, beberapa kartu ATM, dan SIM saya hilang bersama dompet kesayangan. Ya namanya aja cobaan ya, ya udah diterima aja. Hehhee

Meskipun dengan perasaan yang cukup campur aduk, kami melanjutkan acara jalan-jalan setelah lebih dulu memblokir kartu-kartu ATM saya.

Sambil mencoba mengobati rasa sakit hati karena kecopetan, saya foto dengan patung salah satu tokoh fiksi legendaris yang ada stasiun Baker Street. Siapa lagi kalau bukan Sherlock Holmes!

Setelah berfoto dengan patung Sherlock, kami memutuskan untuk mencari kantor polisi untuk melaporkan kehilangan dompet tersebut. Waktu di jalan, kami bertemu polisi dan kami bertanya kepada beliau di mana kantor polisi dan bagaimana cara melaporkan kehilangannya.

Pak polisinya bilang saya tidak perlu ke kantor polisi, cukup lapor secara online saja dan beliau memberikan brosurnya.

Berhubung sudah agak tenang, kami melanjutkan jalan-jalan lagi menuju stasiun King’s Cross St Pancras. Buat apa? Buat foto di platform 9 ¾ dunk! Sebagai salah satu pembaca Harry Potter, mumpung di London, disempatin foto di sini.

Antrinya lumayan panjang juga waktu itu. Di lokasi tersebut, sudah disediakan aksesoris untuk berfoto. Saya pilih syal Slytherin. Sebagai fans berat Prof Snape tentu saja Slytherin adalah pilihan utama. Walau kata teman saya sih saya rada-rada sengak gitu kayak Draco Malfoy. Jadi ya cocok. HAHAHA

Di sini ada fotografer yang memotret pose-pose di situ sebanyak 3 pose. Hasilnya bisa dibeli di toko yang ada di sampingnya. Tapi tidak wajib beli sih sebenarnya. Tapi berhubung hasilnya lumayan bagus juga, jadi kami membelinya. Ya lumayan buat kenang-kenangan. Harganya adalah £20 untuk tiga foto.

Waktu membeli foto tersebut,  kita bisa dapat foto dalam bentuk cetaknya dan juga tautan (link) untuk mengunduh versi digitalnya.

Saat pose di platform 9 ¾ tadi, bisa juga kok ambil foto sendiri, misalnya tidak beli foto di tokonya ya setidaknya sudah punya foto di HP. Hehehe

Toko yang di samping platform 9 ¾ ini namanya The Harry Potter Shop at Platform 9 ¾. Di sana dijual berbagai pernak-pernik khas Harry Potter. Surga belanja untuk para Potterhead.

Setelah dari The Harry Potter Shop at Platform 9 ¾ kami makan siang kemudian menuju penginapan. Berhubung masih capek badan karena perjalanan yang cukup jauh dan juga capek hati karena kecopetan, akhirnya kami ketiduran sampai hampir jam 8 malam.

Begitu bangun, kami buru-buru membuat laporan kehilangan online seperti saran Pak Polisi yang tadi ketemu di jalan. Nah tapi setelah bikin laporan, kami tidak puas. Kok cuma gitu aja ya? Tidak ada surat yang diterbitkan polisi seperti di Indonesia. Padahal kan saya akan butuh surat ini untuk mengurus kartu ATM bank yang di Indonesia.

Ada teman menyarankan kami untuk ke kantor polisi saja, bahkan diarahkan ke alamat kantor polisi terdekat yang buka 24 jam. Kami pun ke sana akhirnya dan kecewa karena polisi tidak menerima laporan kehilangan.

Lost Item

Dengan sedikit nggondhuk kami pun meninggalkan kantor polisinya. Lebih baik kami makan saja!! HAHAHA

Kami memutuskan untuk ke Poppie’s Fish and Chips, salah satu tempat yang direkomendasikan waktu kami browsing di internet. Untuk review jajan-jajan di London akan saya tulis di postingan terpisah yaaa. Biar aku punya bahan postingan terus nih. Ups!

 

Hari Kedua: Putri-putrian

Big Ben, London Eye, dan Westminster Abbey  

 

Big Ben
“Jam Gadang Cabang London” masih dalam proses direnovasi

Hari kedua kami mulai dengan menuju Big Ben alias Jam Gadang cabang London. HAHAHAA

Tapi sungguh sayang, sedang dalam renovasi, jadi kurang sip buat difoto. Meskipun demikian, lokasi di sekitar situ bagus buat difoto-foto termasuk jembatan di atas sungai Thames, London Eye, dan juga gedung parlemen.

 

Tidak jauh dari lokasi tersebut, ada kotak telepon merah yang jadi salah satu ikon London dan merupakan objek foto terkenal di kota tersebut. Sehingga ya tentu saja saya mampir untuk berfoto di dalamnya.

Mesin teleponnya sih waktu itu saya lihat masih hidup ya, tapi kurang tahu apakah masih berfungsi dengan baik ataupun tidak.

View this post on Instagram

•London Iconic Red Telephone Box• ⁣ ⁣ “Halo, mas Jesen Setatam. Jemput aku di prapatan ya mas. Ngebut gak apa-apa, tapi ati-ati di jalan lho ya..”⁣ ⁣ Demikian kira-kira apa yang saya katakan di dalam kotak telepon merah di London minggu lalu. Rada halu memang! 🙊🙊⁣ ⁣ Bulan lalu saya foto di dalam kotak telepon merah tiruan di Arc N Book Korea Selatan, minggu lalu saya bisa foto di tempat benerannya di London. Yeay! ⁣ ⁣ Belasan tahun lalu, waktu saya masih jadi mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Inggris, bisa menginjakkan kaki di Inggris adalah sebuah impian yang paling tinggi dan hakiki. Walau pun terlihat agak-agak susah jadi nyata. Nggak tahu gimana caranya juga. Duitnya aja nggak ada. 🙊⁣ ⁣ Tapi kalau di lagu sih katanya gini, “who knows what miracle you can achieve…” ⁣ ⁣ Ya nggak ada yang tahu memang impian apa yang bisa kita capai. Segala impian kita, ada yang akhirnya tercapai, banyak pula yang tidak. ⁣ ⁣ Tapi selama bermimpi itu gratis ya kenapa tidak bermimpi? Berdoa agar impian tercapai juga gratis. Kalau terwujud ya alhamdulillah, kalau enggak ya nggak ada ruginya wong bermimpi tuh nggak mbayar. 😁⁣ ⁣ #redtelephonebox #londonredtelephonebox #travel #traveling #travelblogger #traveldiary #travelgram #London #England #UK #UnitedKingdom #visitUK

A post shared by Terry Perdanawati (@terry_perdanawati) on

Dari situ kami jalan menuju ke istana Buckingham Palace sambil melewati Westminster Abbey, gereja yang terkenal banget karena sering digunakan untuk acara Royal Wedding.

Westminster Abbey
Di depan Westminster Abbey

Buckingham Palace

Kami sampai di Buckingham Palace di bawah rintik-rintik hujan. Cukup berdesakan untuk bisa mengambil foto istana tersebut karena ternyata ada banyak orang yang menunggu di luar gerbang menanti upacara pergantian penjaga.

Buckingham Palace
Sebagian dari Buckingham Palace difoto dari luar gerbang

Tapi tiba-tiba terdengar suara-suara sumbang yang kecewa karena hari itu upacara pergantian penjaga dibatalkan karena kendala cuaca. Kasihan sih ya, udah hujan-hujanan tapi batal nonton upacara pergantian penjaga. Kami sih tidak terlalu kecewa karena awalnya malah tidak kepikiran buat ngepasin jadwal dengan upacara ini.

Di bawah rintik-rintik hujan itu akhirnya saya dan Pak Jay jalan-jalan tipis di taman Green Park yang tidak jauh dari gerbang Buckingham Palace.

Gate to Green Park
Di depan gerbang Green Park

Sebenarnya kita bisa mengunjungi istana Buckingham (masuk ke dalam) dengan tur khusus. Namun sayangnya waktu kunjungan kami tidak cocok dengan jadwal tur yang tersedia. Jadi ya jalan-jalan di luarnya saja sementara cukup lah ya? Hehehe

 

The Queen’s Gallery dan Royal Mews

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke The Queen’s Gallery yang lokasinya masih satu kompleks dengan istana Buckingham. Di galeri ini pamerannya ganti-ganti dan saat kami ke sana waktu itu, yang sedang dipamerkan adalah koleksi raja George IV: Art & Spectacles, dari barang-barang yang dipajang di kediamannya, hingga pakaian yang dikenakan raja saat pelantikannya.

 

Selain itu, di galeri ini terdapat toko souvenir yang isinya macam-macam. Dari cinderamata yang biasa dijual seperti gantungan kunci, mug, kartu pos, hingga souvenir pernikahan Pangeran Harry dan Megan Markle.

Cuma lihat-lihat saja sudah membuat hati saya gembira. Soalnya kalau mau dibeli semua, repot juga masukin ke kopernya, soalnya kopernya terbatas. Hehehe

 

Untuk mengunjungi galeri ini tiket untuk umum dijual seharga £23 per orang sudah termasuk tiket untuk mengunjungi Royal Mews.

Oh iya, kalau kita mau, waktu membeli tiket, kita bisa bilang bahwa pembelian tiket kita adalah untuk donasi, maka tiket kita akan diberi tanda dan bisa digunakan untuk masuk ke galeri ini selama satu tahun penuh. Cocok buat yang akan ke London beberapa kali dan akan kembali lagi mengunjungi lokasi ini.

Selanjutnya, kami mengunjungi Royal Mews, Buckingham Palace. Di tempat ini terdapat koleksi kereta kerajaan yang biasanya hanya bisa kita lihat lewat TV kalau ada acara Royal Wedding dan acara-acara kenegaraan lainnya. Tempat ini hanya buka dari bulan February hingga November setiap tahunnya. Jadi akan tutup selama Desember-Januari.

Gold State Coach
“Gold State Coach”, kereta termegah yang ada di Royal Mews. Digunakan hanya ketika pelantikan raja atau ratu saja.

 

Selain kereta-kereta klasik yang ditarik oleh kuda, di lokasi ini juga terdapat koleksi mobil Ratu Elizabeth II. Jadi ya perpaduan klasik dan modern gitu lah koleksinya.

Sampai sekarang, orang-orang yang mengurusi kendaraan kerajaan ini beserta kuda-kudanya juga tinggal di area Royal Mews ini, dan mereka secara turun menurun bekerja di istana untuk mengurusi kuda-kuda dan kendaraan yang ada di sini.

Baker Street

Kami kembali ke Baker Street dengan tujuan utama menuju ke bagian Lost and Found dengan harapan bisa mendapatkan kembali dompet saya yang dicopet. Di sana saya melaporkan kehilangan dan diberi informasi bahwa jika dompet saya ditemukan, saya akan dihubungi melalui email. Begitu saja. Tetap saja tidak diberi surat keterangan kehilangan seperti kalau kita lapor kehilangan ke kantor polisi di Indonesia.

Akhirnya setelah saya browsing internet, saya menemukan sebuah website yang bekerja sama dengan polisi untuk melaporkan kehilangan dan bisa mendapatkan surat keterangan kehilangan. Tapi dengan membayar £4.95. Lumayan sih ya pakai bayar segala. Tapi saya pikir ya sudah, buat jaga-jaga jika nanti saya harus mengurus kartu ATM baru di Indonesia dan surat ini dibutuhkan.

View this post on Instagram

•221 B Baker Street•⁣⁣ ⁣⁣ Mungkin caption halunya gini: foto di depan apartemennya Sherlock Holmes bareng Iptu Lestrade. Habis rapat kamtibmas bareng Sherlock untuk mengurangi kasus pencopetan di dalam kereta bawah tanah London. 🤪⁣⁣ ⁣⁣ (((IPTU LESTRADE)))⁣⁣ ⁣⁣ Mentang-mentang Lestrade itu inspektur polisi terus dikasih pangkat iptu. 🙊⁣⁣ ⁣⁣ Sebagai orang yang suka cerita Sherlock Holmes sejak baca buku terjemahannya di perpustakaan SMP hingga Sherlock versi BBC yang menampilkan mamas Ben akuh sebagai Shelock, bisa ke 221 B Baker Street adalah sebuah impian yang jadi nyata. Alhamdulillah… ⁣⁣ ⁣⁣ Masih kayak belum percaya kalau tempat ini beneran ada. 😁⁣⁣ ⁣⁣ #221bbakerstreet #BakerStreet #Sherlock #SherlockHolmes #BakerStreet #travel #traveling #traveldiary #travelblogger #travelgram #London #UK #UnitedKingdom #visituk

A post shared by Terry Perdanawati (@terry_perdanawati) on

Mumpung di Baker Street, kami mampir ke 221B dunk! Ke rumahnya Sherlock Holmes. Di alamat tersebut ada museum Sherlock Holmes, saya sempat berfoto di depannya tapi tidak sempat masuk ke dalamnya karena ada agenda kencan selanjutnya dan mau mandi dulu dan dandan hehehe.

Apakah ini berarti harus kembali lagi ke London biar sempat masuk museum Sherlock Holmes? #eaaa

Tapi kami sempat mampir di toko cinderamata sebelahnya. Ada berbagai macam cinderamata semua tentang Sherlock. Bagi para penggemar Sherlock Holmes, ini adalah semacam surga!

 

Afternoon Tea

Akhir-akhir ini, termasuk waktu terakhir di Korea, kami main putri-putrian. Ya gampangannya sih, Pak Jay ngajakin kencan dan membuat saya saya merasa seperti putri gitu. #halah

Berhubung ini di Inggris, jadi putri-putriannya dalam bentuk Afternoon Tea sebuah kegiatan khas di Inggris, minum teh sambil makan sandwich, scone, dan dessert.

Ada banyak pilihan dan berbagai macam harga, dari mulai yang satu orangnya harganya satu setengah juta lebih hingga yang murah-meriah dengan hanya satu atau dua jenis makanannya saja.

View this post on Instagram

•Afternoon Tea in London•⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣ Hari ini saya ditraktir putri-putrian sama Pak Jay, menikmati afternoon tea di London.⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣ (((PUTRI-PUTRIAN)) 🙊🙊⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Tradisi ini awalnya diciptakan oleh Anna, the 7th Duchess of Bedford, yang meminta disediakan cemilan pada sore hari karena jarak antara jadwal makan siang dan makan malam di rumahnya lama, jadi sorenya dia udah lapar. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Selain menikmati camilannya sendirian, dia juga sering mengundang teman-temannya untuk ikutan. Kemudian kebiasaan ini berkembang jadi salah satu budaya di Inggris. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Secara umum sih selain minum teh juga ada aneka sandwich. Lalu setelah makan sandwich urutannya adalah makan scones dengan olesan clotted cream dan selai buah. Setelah itu adalah aneka dessert. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Di London ada beberapa tempat yang menyediakan menu afternoon tea halal, dengan pemesanan maksimal 48 jam sebelumnya. Termasuk di tempat kami kentjan tadi. ☺️⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Meskipun makanannya kecil-kecil gitu, tapi kenyang banget! Kami tidak sanggup makan semuanya. Udah gitu, habis afternoon tea nggak makan malam lagi soalnya udah kenyang. 😝⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ #afternoontea #afternoonteatime #MilestoneHotel #afternoonteadate #couple #couplegoals #travel #traveling #traveldiary #travelblogger #travelandfood #travelgram #London #UK #UnitedKingdom #visituk⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣

A post shared by Terry Perdanawati (@terry_perdanawati) on

Kami memilih yang tengah-tengah. Yang tidak mahal-mahal amat, tapi tetap mencoba secara tradisional berbagai macam sandwich, scone, dan dessert yang disajikan. Selain itu, kami juga memilih di tempat yang menyediakan pilihan sajian halal, pilihan kami jatuh ke The Milestone Hotel & Residence dan kami puas dengan layanan dan sajiannya.

Pulang dari kencan Afternoon Tea, kami mampir lagi ke area pinggiran sungai Thames, melanjutkan agenda pacaran kami. Salah satunya, kami foto-foto di atas Golden Jubilee Bridge dengan latar belakang London Eye.

On Golden Jubilee Bridge
Di atas Golden Jubilee Bridge

Kegiatan kencan putri-putrian tersebut mengakhiri kunjungan kami bagian pertama di London, kami kemudian menjutkan perjalanan ke Bristol dan Bath, juga ke Machester dan Liverpool, sebelum kembali ke London.

Hari ke-11 di Inggris: Walaupun capek, tetap semangat!

Di hari ke-11 kunjungan kami di Inggris, kami sudah sempat jalan-jalan di Briston, Bath, Leicester, Manchester dan Liverpool. Kemudian kami  kembali ke London dari Manchester naik bus.

Perjalanannya kira-kira 5 jam dan kami sampai London dalam keadaan agak-agak mabuk darat. Tapi Alhamdulillah bisa langsung kembali segar setelah makan. HAHAHA

British Library

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju British Library. Tujuan utama saya sih untuk melihat naskah Magna Carta yang sering disebut-sebut dalam pelajaran sejarah.

Namun ternyata di sana juga terdapat naskah-naskah kuno lainnya yang tidak kalah menarik, termasuk Al-Quran kuno dari zaman sahabat nabi dengan ejaan kuno yang tidak ada tanda bacanya, yang tentu saja saya nggak ngerti deh bagaimana cara bacanya, hingga naskah-naskah Jawa yang dahulunya adalah milik Kraton Yogyakarta yang diambil tentara Inggris saat menyerang Kraton dulu.

Ada banyak koleksi lain juga di perpustakaan ini, termasuk manuskrip asli karya Shakespeare, dan juga buku-buku lain. Tapi waktu kami terbatas sampai perpustakaan tutup pada pukul 20:00 jadi belum sempat mengeksplorasi lebih lanjut.

Mungkin kah ini pertanda harus balik ke London lagi? #eaaa #kodeterus

 

Emirates Stadium

Setelah itu kami mengunjungi Emirates Stadium, kandangnya klub sepakbola Arsenal. Meskipun sudah cukup malam dan sepi, tapi kami tetap bertekad untuk ke sana karena salah satu sepupu saya pingin difotoin Emirates Stadium karena sebelumnya sudah lihat saya foto di stadion Old Trafford, Etihad Stadium, dan Anfield Stadium.

Selain foto di depan tulisan Emirates Stadium, saya juga foto di dekat patung Thierry Henry. Yang ini buat dikirimkan ke Bapak saya yang anak pertamanya bernama Terry dan anak keduanya bernama Henry. Tapi bukan bapak saya yang ikut-ikutan ya, saya dan adik saya sudah lahir duluan sebelum Thierry Henry terkenal. Hehehe

Thiery Henry Statue
Patung Thiery Henry

Sebenarnya ada banyak titik yang bisa dipakai foto-foto di lokasi ini, termasuk di dekat meriam yang jadi ikon klub sepak bola ini. Tapi sayang karena sudah cukup malam, jadi pencahayaannya agak-agak kurang, jadi kami tidak bisa banyak ngeksis berfoto di sini.

Saran saya sih kalau memang penggemar Arsenal, datang ke sini pagi-pagi aja. Sekalian ikut tur masuk ke stadionnya.

Hari ke-12: Hari Terakhir Sebelum Kembali ke Minnesota

Houses of Parliament

Kami kembali lagi ke area dekat-dekat sungai Thames dan menuju ke Houses of Parliament dengan harapan bisa ikut tur dengan beli tiket langsung di sana. Ternyata sudah sold out, saudara-saudara.

Sebelumnya kami lupa untuk pesan tiket dulu sebelumnya, jadi ya kami foto-foto di luarnya saja.

 

Charles Dickens Museum

Tapi mungkin tidak kebagian tiket tur Houses of Parliament ini ya ada hikmahnya juga karena kami jadi punya waktu untuk mengunjungi rumahnya Charles Dickens di London yang sekarang menjadi Charles Dickens Museum, semacam “naik hajinya” anak Sastra Inggris.

View this post on Instagram

•Charles Dickens’ Dinning Room• ⁣⁣ ⁣⁣ Waktu posting foto-foto di depan stadion sepakbola, ada beberapa teman yang komentar, “wah ini sih kayak naik hajinya suporter bola.” ⁣⁣ ⁣⁣ Terus saya kepikiran deh kalau foto ini adalah semacam “naik hajinya” anak jurusan Sastra Inggris, berkunjung ke rumahnya Charles Dickens di London. ⁣⁣ ⁣⁣ “Umrohnya” sih udah sebelumnya pas ke rumah Jane Austen di Bath. ⁣⁣ ⁣⁣ Lumayan sih mampir ke rumahnya Charles Dickens ini jadi tahu bayangannya gimana hidup penulis yang satu ini. Plus jadi tahu meja di kamarnya, tempat dia menulis karya-karya yang menghantui malam-malamku waktu kuliah S1 dulu. 😝⁣⁣ ⁣⁣ Btw, Charles Dickens pas muda ganteng yak? #pret 🙊⁣⁣ ⁣ Sementara ini “haji” dan “umroh” ala anak Sastra Inggris dulu. Semoga kapan-kapan bisa haji dan umroh beneran ke Baitullah. Amin. 🙏⁣ ⁣⁣ #charlesdickens #charlesdickensmuseum #museum #travel #traveling #travelgram #traveldiaries #travelblogger #London #England #UnitedKingdom #UK #visitukulhas

A post shared by Terry Perdanawati (@terry_perdanawati) on

Saya baru tahu kalau ada persamaan antara Charles Dickens dan saya, suka mengundang teman makan-makan di rumah. Apakah ini berarti saya akan jadi sukses seperti dia? Oh ya tentu saja tidak begitu ya logikanya? HAHAHA

Satu hal yang paling menarik dari rumah Charles Dickens ini adalah ruangan tempat dia menuliskan karya-karyanya. Saya sempat mengambil foto meja tempat Charles Dickens menuliskan novel-novel yang menghantui malam-malam saya selama kuliah S1 dulu.

Charles Dickens' Table
Salah satu meja yang digunakan Charles Dickens untuk menulis karya-karyanya

Tower of London dan Tower Bridge

Sore itu kami melanjutkan perjalanan menuju Tower Bridge dan melewati salah satu tempat wisata yang terkenal juga di London, Tower of London, yang dulunya adalah penjara. Kalau di Indonesia, semacam Lawang Sewu di Semarang gitu deh. Hehehe

Tower Bridge
Penampakan “Tower of London” dari luar

Berhubung sudah sore, jadi kami hanya lewat dan mampir ambil foto saja di Tower of London. Kemudian lanjut menyusuri Tower Bridge.

Buat penggemar Game of Thrones, mungkin jadi kepikiran kalau ini rasanya kayak lagi menyeberangi The Twins jembatan sekaligus menara dan rumahnya House Frey. Tiba-tiba khayalan saya juga ke situ.

Selain itu, saya juga memang suka menyusuri jembatan. Tiap jalan-jalan ke sebuah kota, saya selalu suka menyusuri jembatannya, tentu saja yang aman diseberangi pejalan kaki ya!

Tower Bridge, London
Tower Bridge, London difotokan oleh Jay Afrisando

Rasanya tiap saya menyeberangi jembatan tuh seperti sedang berkontemplasi. Menyeberangi satu titik ke titik lain. Mempertimbangkan tujuan hidup saya. #tsah

Tate Modern

Kunjungan kami di London diakhiri dengan mengunjungi Tate Modern, salah satu tempat yang ada di daftar wajib dikunjungi yang disusun oleh Pak Jay.

Meskipun sudah cukup lelah setelah berjalan dari pagi hingga malam itu, kami masih semangat berjalan kaki lagi selama kurang lebih 20 menit dari ujung Tower Bridge menuju Tate Modern, karena ternyata bus yang ingin kami tumpangi tidak lewat-lewat.

 

Sampai di Tate Modern, kami melihat-lihat beberapa pameran yang menarik. Masuk ke Tate ini tidak dipungut biaya untuk pameran-pameran tertentu. Sedangkan ada pameran lain juga yang berbayar jadi harus beli tiket.

Sehingga ya tergantung pameran mana yang ingin kita tonton sih ya jadinya apakah jadi keluar uang atau gratisan saja! HAHAHA

Hari ke-13 di Inggris: Saatnya Pulang!

Setelah 13 hari di Inggris dan sudah mengunjungi 6 kota di England, saatnya kami pelukan salju Minnesota.

Alhamdulillah perjalanannya memuaskan meskipun ada beberapa hal yang bikin kepikiran, “belum ke sini nih…jadi harus balik lagi kayaknya!” #kodelagi

Meskipun demikian, saya sepertinya harus mengikhlaskan bahwa sampai pulang kembali ke Minnesota pun dompet saya belum ketemu. Ya anggap saja sebuah pelajaran untuk lebih berhati-hati lagi lain kali.

Eh tapi ada satu hal yang paling menyenangkan nih! Pulang-pulang ke Minnesota, rok yang dulunya sudah tidak muat lagi saya pakai, sekarang muat lagi.

Jadi kesimpulannya, saya ini tidak butuh diet yang gimana-gimana, cukup jalan-jalan aja! HAHAHAA

 

 

 

 

 

3 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s